Monday, 1 February 2016

Romantika Gilang dan Rana (Bagian 1)

Jogja, 18 Desember 1999

"Hey! Rana?"
Sesaat langkahku terhenti didepan pintu kamar Harris, temen satu kos dari Bandung tapi fasih berbahasa Jawa. Tapi kok bukan suara si empunya kamar? Kos-kosan aku memang penghuninya campur, laki-laki dan perempuan. Jadi semua tamu baik laki-laki maupun perempuan diijinkan masuk kamar oleh  ibu kos ku. Asalkan tetap tanggungjawab. 
"Iya, eh siapa ya?" Tanyaku. 
"Aku Gilang, kenalin.. Temennya Harris satu kelas. Harris nya masih di kampus." Kata Gilang sambil mengulurkan tangannya kearahku, suaranya jelas dan sedikit ngebas layaknya penyiar radio.
"Kok tau namaku?" Lalu aku bertanya. 
"Harris yang bilang." Diapun senyum simpul. 
Lalu kami berdua ngobrol singkat sambil duduk dibawah masih didepan kamar Harris. Ngobrol seputar tempat asal kami masing-masing, tukeran no telpon, waktu itu belom jaman handphone apalagi sosial media seperti sekarang.
Padahal postur tubuh si Gilang ini agak kurus, ceking, setipe gitu deh sama Duta Sheila on 7, tapi suaranya sumpah merdunya mirip penyiar radio! Qiqiqi... Jadi betah aja ngobrolnya sampai si Harris yang punya kamar datang, dan barulah aku kembali ke kamarku. 


Jogja, 19 Desember 1999

"Ranaaaaa..." Suara ibu kos memanggil, tandanya ada orang yang datang mencariku. 
Eh? Dalam hatiku agak kaget, gak salah nih? Itu yang duduk di ruang tamu kan Gilang. Kok nyari aku? Sambil penasaran aku keluar kamar jalan menuju ke arah seseorang yang baru kukenal kemarin, duduk layaknya seorang cowok dengan kedua sikunya bertumpu di kedua pahanya santai, aku bergumam dalam hati 'Ternyata kece juga ya nih cowok?' sambil melambaikan tangan kearahnya dan disambut dengan senyuman yang oh my God, makin bikin diriku jadi deg deg ser aja... 
"Hallo.." Sapa Gilang
"Hai! Nyari aku?" Tanyaku polos sambil isyarat tanganku menunjuk ke kamar Harris.
"Iya. Oh Harris kan dia pulang kampung. Eh, kamu lagi ngapain, tidur ya?" 
"Gak.. Lagi nyetem gitar."
"Oh iya, kata Harris kamu bisa main gitar ya?"
"Hehe.. Eh Harris cerita apa sih tentang aku? Parah deh tu anak.."
"Hahaha! Curiga aja, Non.." Candanya kemudian. "Ayo, ajarin aku dong? Sini ambil gitarnya" lanjutnya. 
Dan kamipun terhanyut dalam buaian gitar-gitar asmara untuk yang pertama kalinya. Uhuuy...
Lagu pertama yang aku mainkan untuknya waktu itu adalah Kiss Me by Sixpence None The Richer. Ini bukan modus yaa, catet!


Solo, 25 Desember 1999

Kriiing.. Suara telpon hitam jadul dirumah orangtuaku berdering. Saking kencengnya sampai-sampai aku yang lagi di WC ikutan terkaget-kaget hihihi.. Mungkin aku terlalu menghayati. 
"Ranaaa, telpoooon.. Dijawab gak?" Kata ibuku
"Yaaa.." Teriakku sambil buru-buru menuntaskan yang harus dituntaskan. Aku bergegas menuju ruang tengah dimana telfon kuno itu berada. 
"Hallo.." Sapaku perlahan, kurang tau juga siapa diseberang sana karena tidak menyebutkan nama. 
"Hallo, Rana ya?" 
Aaaaaah.. Suara khas itu... "Eh kamu?" Jawabku sumringah. Gak berani nyebut namanya juga takut kedengeran si Ibu hihihi... Padahal juga gak papa sih. Tapi namanya juga mahasiswi baru masih takut ketahuan kalo jatuh cinta. Apah? Jatuh cinta? Ranaaaaaaa jatuh cintaaaaaa???

Sepertinya memang benar, Rana mantan anak band eh, dia mah lebih suka disebut sebagai cewek multitalented sih daripada anak band. Iya, soalnya alat musik apa aja dia bisa.
Nah, lanjut.. Rana yang aslinya tomboy, yang temennya cowok semua, yang keseringan mainin senar gitar daripada melukis alis sendiri. Yang lebih fasih megang stik drum daripada megang lipstik. Rana yang koleksi topi, sneakers  dan jaketnya menuh-menuhin lemari. Rana yang gak punya rok, sekarang lagi jatuh cintaaaa??? Aaaiiiiiihhh... Apa kata emak gueeee???

Yang jelas malam harinya setelah siangnya ditelpon Gilang yang lagi mudik di Bandung, aku gak bisa tidur. Saat-saat perkenalan dengan Gilang, saat-saat berdua main gitar, saat-saat naik motor berdua pake motor pinjeman (siapa lagi kalo bukan motor si Harris), saat-saat minum es buah di salah satu pojok trotoar Malioboro semangkok berdua hihihi, karena harganya gila bo' Rp. 15.000 satu mangkok!! Buat mahasiswa kala itu cukup mahal. Semua itu masih sangat jelas melayang dipikiranku. Ternyata aku sangat merindukannya. Oh malam, tolong sampaikan padanya bahwa aku amat sangat merindukan Gilang nun jauh disana.Ya, kampus lagi libur Lebaran waktu itu. Semua mahasiswa pulang ke kampung halaman masing-masing. 

Aku belum pernah merasakan rindu yang sehebat ini sebelumnya. Rindu yang teramat dalam dan tak terungkapkan. Sampai-sampai aku meneteskan air mata entah karena saking rindunya atau entah karena gak tau lagi apa yang bisa aku lakukan untuk menepis rasa ini. Baru kali ini aku kangen berat dengan seseorang sampai sedih, nyesek didada. Pada siapa aku mengungkapkannya pun aku gak ngerti. Aku coba memutar sederetan nomor dengan kode kota Bandung, setelah terjawab malah aku tutup. Aish! Bener-bener yaah! Ternyata rindu itu menyakitkan. Gilaaaaaang... Kamu merasakan hal yang sama gak sih? Ingin kuteriak rasanya.. 

Dan akhirnya akupun tertidur dalam keadaan rindu melanda di sofa depan TV.


Jogja, 13 Februari 2000

Seminggu sudah kami kembali ke kampus. Sudah menjadi kebiasaan pulang dari kampus Gilang selalu mampir ke kamarku. Dan memang sudah biasa juga dia main ke kamar Harris. Kadang sambil nunggu Harris datang Gilang main gitar dulu di kamarku. Hmmm... Jadi semangat dan berbunga-bunga sambil bikin tugas denger backsound nya petikan gitar si Gilang memainkan lagunya Bunga, Kasih Jangan Kau Pergi. Ah dia mah pura-pura gak bisa main gitar, pura-pura minta ajarin ternyata ada maunya. Gombal yang membawa berkah hihihi... 

"Eh, Rana!" 
Gilang adalah satu-satunya orang yang memanggilku lengkap Rana. Gak seperti temen-temen yang lain, ada yg manggil Ran, atau Na. 
"Aku balik dulu yah?" Lanjut Gilang, "Ntar malem aku jemput kamu kita keluar yuk? Ok yaah! Daaahh.." Sambil ngeloyor dia pergi aja gitu dari kamarku tanpa memberi kesempatan aku menjawab ajakannya. 

Hadeuh! *tepok jidat.. Kan nanti malam temen-temen kos mau ngerayain valentine. Waduh gaswat! Udah terlanjur janjian, si Jenny udah mesen kue, ini coklat buat tukeran kadopun udah aku bungkus ala kadarnya pake kertas koran. Tapiiiii, aku juga pengen pergi sama Gilang. Hmmm.. Aku ke mbak Lina dulu deh...
"Mbak Liiiin..." Sambil gedorin pintu kamar mbak Lina, cewek tinggi semampai berparas cantik dua tahun lebih tua dariku, asal Tegal. Sayang, cantik cantik tapi bikin ketawa kalo denger dia ngomong. Logat Tegal nya itu lho gak tahan, hihihi. Dalam hati cekikikan sendiri didepan kamarnya sambil nunggu dibukain pintu. 

Setelah menjelaskan duduk permasalahannya, kaya yang serius amat yah? Walaupun dengan wajah merah menahan malu karena jadi ketauan deh kalo Gilang lagi ada usaha, hihihi.. Tapi akhirnya dengan bijaksana alias mau mengerti perasaan adek kelasnya ini, Mbak Lina memberikan waktu untukku jalan bersama Gilang sampai pukul 9 malam. Kalo telat dihukum! Maaaaakk... Aku bukan Siti Nurbayaaaa, eh Cinderella... Ah tapi gak papa lah! Lumayan hihihi...

Waktu telah tiba, akupun akhirnya sudah memutuskan untuk pakai jeans belel dan t-shirt putih polos berkerah lebar, bergaris-garis warna hitam di bagian lengan dan gak ketinggalan jaket jeans kebanggan. Setelah berkeliling dari kamar ke kamar minta wangsit dari temen-temen yang lebih pinter soal mix and match tapi semua pilihan mereka norak bin ajaib. Ah sudahlah, as usual Rana yang masih tomboy tetap memilih pakaian casual. Tanpa polesan make up dan rambut sebahu yang disisir seadanya. Baginya menjadi diri sendiri lebih penting daripada berusaha menyenangkan orang lain tapi diri sendiri merasa tidak nyaman. 

Tiba-tiba lamunanku buyar ketika seseorang mengetuk pintu kamarku. 
Pintu kamar kubuka lebar dan berdirilah dihadapanku, qiqiqi aku pikir Teuku Ryan, artis yang ngetop pada masa itu. Segera ku kucek-kucek mataku, ternyata sesosok makhluk yang gak kalah ganteng sama Fedi Nuril, pake jaket jeans juga, rambut disisir rapi. Dua tangannya sembunyi dibalik punggungnya. 
"Hallo... Nih, buat kamu!" Sapanya kemudian senyum dan menyusullah rangkaian bunga mawar merah, kuning dan pink berpita biru dari balik punggungnya. 
"Ya ampuuuuunn... Makasiiiiihhh" seruku yakin gak bisa menutupi rasa happy campur malu pasti pipiku merah merona.
"Sesuai kan sama warna kesukaan kamu, biru.. Pitanya doang siihh" Kata Gilang agak salah tingkah. 

Spontan bunga dari Gilang aku terima dan kucium tanda aku menyukainya. Lalu aku mencari botol kaca bekas seadanya didapur kos-kosan dan kutaruhlah bunga itu sementara didalamnya dan kuletakkan diatas meja belajarku. Kemudian aku mengunci pintu kamar dan tiba-tiba Gilang menggandeng tanganku lalu kami berjalan keluar. 
"Suit suiiiiittt...!" Asem bener suara itu mengganggu saja. Ternyata Jenny, mbak Lina, Yetty dan Dwita turut menyeponsori kejadian ini. Aku dan Gilang hanya pandang-pandangan kemudian mempercepat langkah supaya segera lepas dari gangguan mereka. 

Setelah menyalakan motornya, lalu aku duduk dibelakang Gilang. 
"Pegangan dong Rana, nanti jatuh." Kata Gilang padaku. 
"Malu ah.." Kataku 
"Ya udah pegangan jaketku aja." Pintanya kemudian. 

Padahal dibelakang dia aku tersipu-sipu malu, eits lupa ada kaca spion! Bisa ketauan nih. Oops..
Kali ini Gilang bawa motor teman kos nya. Maklumlah dia gak dikasih kendaraan sama bapaknya. Khawatir di Jogja bukannya kuliah malah jalan terus. 

Kurang lebih 30 menit dijalan sampailah kita disebuah kafe, tempat nongkrong favorit anak muda pada masa itu. Namanya Kedai Meja Tiga. Sebuah kafe dengan konsep romantik cocok untuk candle light dinner disaat malam valentine kala itu. Entah kenapa dinamakan kedai meja tiga asal usulnya kurang tau, tapi kononnya sih awal-awal kafe itu dibuka cuma ada 3 meja dan 6 kursi. Dan dikarenakan bertambahnya customer yang datang ke kafe itu sekarang tidak cuma 3 meja tapi banyak. 

Kebetulan aku sering datang ke kafe itu bareng temen-temen, jadi udah kenal dekat dengan pemilik kafe, Mbak Dewi. Baru lulus kuliah, dikasih modal oleh orangtuanya yang saat itu menjadi salah satu pejabat pemerintah kota Jogja, untuk membuka kafe. 
"Haaaiii Ranaaaa!!" Sapa mbak Dewi begitu melihatku di kejauhan. Biasa dia memang selalu heboh tiap kali ketemu aku. Aku hanya melambaikan tangan kearahnya. 
"Ranaaaaa... Kemana aja kamu? Lama gak kesini.." Sambutnya sambil kita ber cipika cipiki. 
"Ah mbak Dewi aja yang gak pernah disini kalo aku dateng. Minggu lalu aku kesini kok berdua ma Jenny, sore jam 4 an gitu."
"Oooh aku udah cabut dari jam 2 an soalnya harus nganter Mama, biasa mau shopping hehe.. Eh, siapa tuh? Pacar baru? Kenalin dong, Rana gitu deh.." Mbak Dewi emang hobi menggodaku. 
Langsung kucubit pinggang mbak Dewi, "Ssst... Bukan. Temen, mbak!" Koreksiku. Gilang sih senyam-senyum aja. Lalu mereka kenalan. Mbak Dewi mempersilakan kami untuk menikmati makanan pesanan kami. 

Singkat cerita, tidak terjadi apa-apa disana. Aku dan Gilang hanya ngobrol seputar keluarganya, keluargaku. Tentang masa SMA dulu dan semua hal yang pernah kita lakukan masing-masing dari kejadian biasa sampai kejadian konyol dan memalukan. Tapi gak ada jaim diantara kita. Jaim lagi ke laut wkwkwk.. Semuanya mengalir begitu saja seakan-akan kami udah lama saling kenal. 

Aku melirik jam ditanganku. Aduh! Jam 9 lebih 10 menit! Gak terasa 2 jam berlalu secepat itu. 
"Gilang, pulang yuk? Ditunggu temen-temen ntar aku gak dibukain pintu pula klo telat.." Pintaku sedikit panik. 
"Bener? Jadi pulang sekarang nih?" Tanyanya setengah menggoda. 
"Yuk ah cepetan!" Sambil kucubit lengannya. Dia nyengir aja sambil merogoh kunci motor GL-Pro disaku celananya. 

Tepat jam 10 malam, aku sampai dikos dan teman-temanku masih setia menunggu. Biasalah, langsung disuruh konferensi pers. Kemudian kenorakan dimulai. Dan berakhir jam 12 malam, masing-masing masuk ke kamarnya. Dan aku, masih membayangkan wajah Gilang dan segala sikapnya yang misterius. 'Dia suka gak sih sama aku?' Batinku. Kalo suka kok gak nembak? Kalo gak suka kenapa perhatian? Ah Rana, please be calm!


Jogja, 17 Februari 2000

Siang itu agak mendung, Gilang datang seperti biasa dia masuk kamar langsung ambil gitar dan memainkannya. Aku masih sibuk dengan tugas-tugas mata kuliah Bisnis Plan yang membuatku harus menghayal. Namun lagu Pelangi Di Matamu punya Jamrud yang Gilang nyanyikan membuatku menghayal jauh ke tempat lain. Hihihi! 
"Kok berenti?" Tanyaku kemudian memecah kesunyian karena petikan gitarnya tak terdengar kira-kira 30 detik. Aku menoleh ke arahnya 1 detik kemudian kulanjutkan menulis lagi. Tapi pertanyaanku tak dijawab. 
"Rana, sini dong?" Katanya pelan.
Mendadak aku jadi salah tingkah, dan mencoba keep calm pindah dari kursi belajar ke karpet dan duduk di sebelah Gilang. 
"Ada apa?" Tanyaku sedikit curiga
"Rana, kamu itu lucu yaah.." 
"Laaaah kok lucu emang badut?" Kupukul lengan Gilang ala-ala petinju, dia hampir ambruk dan mencoba bertahan lalu kembali ke posisi semula. Kami ketawa berbarengan melepas sejenak kegugupan yang ada. 
"Abdi.. Hoyong.. Ka anjeun.." Katanya lembut dan pelan. 
"Ngomong apa sih? Gak ngerti.." Aku bingung dia ngomong bahasa Sunda yang aku gak ngerti babar blas artinya. 
Lagi-lagi dia cuma mesam-mesem penuh arti. Sesekali mengusap-usap hidungnya, membetulkan rambutnya yang agak gondrong. Yang jelas dia grogi. 
"Gak.. Gini lho, kamu... Mau gak.. Jadi pacar aku?" 
Sontak aku kaget sekaligus gak percaya. 
Akhirnya Gilang nembak jugaaaaa! Rasanya gak karuan di dadaku campur-campur semua deh ada disini. Antara seneng, deg-degan tapi juga gengsi dan malu. Aku belom bisa berkata-kata hanya melipat kedua kaki dan kudekap di dada erat-erat, menunduk malu-malu tapi sebenernya mau juga siiihh. Hahahah!! Dia menyandarkan gitarnya di dinding lalu meraih tanganku dan menggenggamnya. Jantungku makin berdegup kencang saja. 
"Rana? Kamu sayang gak sama aku?" Tanyanya menanti jawaban sambil terus menatapku.
Aku hanya bisa membalas tatapannya dengan senyum dan mengangguk. Diapun menerima isyaratku. Lalu kamipun tersenyum, dia peluk aku dan akupun jatuh dalam pelukannya. 
"Makasih ya Rana.. I love you since we met at the first time." Katanya
"What?? Sama dong." Akhirnya akupun mengakuinya. 
"Oh ya? Ini gak mimpi kan?" Diapun seakan-akan gak percaya sambil mencubit-cubit tanganku.
"Aaaww! Sakit tau.."
Lalu diciumnya tanganku dengan lembut. 


Aku ambil gitar dan kumainkan instrumen lagu favorit kami dari Bunga, Kasih Jangan Pergi. Kemudian Gilang pun bernyanyi untukku. Suaranya lumayan. Kolaborasi yang pas, menurut yang lagi terpanah asmara. Pokoknya dunia milik berdua deh. Ah betapa bahagianya kami saat itu. 


Jogja, 19 Februari 2000

Malam minggu pertama kami setelah jadian pun tiba. Pagi sampai siang kami sama-sama ada kuliah dan hanya sempat ketemu sebentar di kampus. Aku dan Gilang beda jurusan jadi jadwal kuliah pun kadang tidak sama. Hari itu aku kuliah hanya sampai jam 12.30 siang. Tapi Gilang ada kuliah lagi jam 3.30 sore. Jadi kami hanya bertemu dari jam 1 siang sampai jam 3.30 sore. Kampus kami cukup dekat hanya perlu jalan kaki 2 menit dari kos. Dan kos aku dengan kos Gilang hanya berjarak sekitar 200 meter. 

Akhir pekan kali ini aku tetap di kos dan tidak pulang ke Solo seperti minggu-minggu sebelumnya. Kan ada pacar baru... Hihihi. 

Jam 7 lewat 15 menit Gilang menjemputku kemudian kami berjalan kaki ke warung mahasiswa dekat kampus untuk makan malam. Tidak seperti mahasiswa jaman sekarang, mahasiswa angkatan tahun 90 an makan di angkringan pun asal berdua sama pacar, serasa candle light dinner di kafe mahal hihihi... Bedanya di kafe pake lilin beraroma kalo di angkringan pake petromak, hahaha!!


Ternyata orang tua Gilang sudah berpisah sejak dia SMP. Dia punya adik laki-laki satu, tinggal bersama ibunya. Sementara Gilang tinggal bersama bapaknya yang sudah menikah lagi dan mempunyai seorang anak perempuan. Namanya Rury. Dia sangat sayang dengan adik perempuannya yang waktu itu masih berumur sekitar 5 tahun.
Aku jadi terharu mendengar cerita tentang kehidupan Gilang. Dia bilang, kalo dia menikah nanti gak mau seperti orangtuanya, sebisa mungkin akan dia jaga agar keluarga tetap utuh kasihan anak-anak yang jadi korbannya. 

Gilang, walaupun dia satu tahun lebih muda dariku dia sangat dewasa. Mungkin pengalaman hidupnya yang membuat dia cepat dewasa. Terlihat dari cara ngomongnya, caranya dia berfikir dan melihat sesuatu. Cara dia memperlakukan aku. He is so sweet, dia selalu berjalan disebelah kananku dan memegang tanganku ketika menyeberang bersama. Dia sangat memperhatikan aku, itulah sebabnya aku begitu jatuh hati padanya. Hingga suatu hari...


Jogja, 22 Februari 2000

Tiga hari sudah Gilang tak kunjung datang ke kos seperti biasa. Hari-hari berlalu tanpa aku mendengar kabar tentang Gilang lagi. Diapun gak kelihatan menemui Harris sobat kentalnya itu. Padahal sehari bisa 3 kali dia bolak-balik datang. Lah ini enggak, membuatku cemas sekaligus galau. 

Kebetulan tadi pagi kami berpapasan di kampus, aku dan teman-temanku sedang duduk sambil membahas materi kuliah yang baru saja disampaikan dosen, di kursi panjang depan kelas Manajemen. Aku lihat Gilang berjalan bersebelahan dengan Harris menuju ke kelas Akuntansi. Gilang melihatku kemudian senyum sambil gerak bibirnya mengisyaratkan 'aku masuk kelas dulu yaa' Akupun membalas senyumnya dan mengangguk tanda okay. 


Jogja, 23 Februari 2000

Kutunggu dan kutunggu, gak pernah datang jawaban yang pasti. Ini gak biasa, ada yang gak beres kayanya. Tapi apa? Kenapa Gilang gak memberitahuku? Aku ini pacarnya kan? Aku mulai gelisah, kuliah gak konsen, tidur gak nyenyak, makan pun gak selera. Setiap bangun tidur selalu yang terbayang pertama kali hanyalah wajah Gilang. Aku bisa gila kalo lama-lama dibiarkan seperti ini. Akupun berinisiatif menulis surat untuk Gilang. Bodohnya aku, aku gak punya keberanian untuk datang ke kos Gilang menanyakan sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Lalu kuambil bolpen bertinta biru warna kesukaanku, dan kutulislah surat untuk Gilang...

Rabu, 23.02.00, 05.00 am.

Dear, Gilang...
Apakabar sayang? Semoga kamu baik-baik aja. Kamu kemana aja selama ini? Kenapa kamu gak ngasih kabar, gak datang lagi ke kosan aku? Aku kan jadi bingung, paling gak kamu cerita dong ke aku. Siapa tau aku bisa bantu. Tapi gak begini caranya. Kamu gak mikirin perasaanku. Aku kangen kamu, Gilang...

Atau aku udah buat kamu marah ya? Aku minta maaf kalo udah buat kamu kecewa dan gak mau nemuin aku lagi. Tapi please Gilang kasih tau aku.. Dimana kesalahanku?

Sayang, asal kamu tau ya aku tuh sayang banget sama kamu. Aku harap kamu juga bener-bener sayang ma aku. Tolong balas suratku ini... Aku pengen kita sama-sama lagi seperti kemaren-kemaren. Sampai kapanpun aku akan tetap nunggu kamu Gilang. Kamu lihat kertas yang masih basah dan tulisan yang luntur itu kan? Itu tetesan air mataku... Supaya kamu tau kalo aku bener-bener sayang kamu...

With love,
Rana, yang lagi sedih..

Setelah kubaca ulang lalu kertas kulipat, kemudian naik ke lantai atas ke kamar Harris untuk menitipkan surat itu. 
Kupanggil Harris sambil kuketuk pintu kamarnya yang masih tertutup. Ternyata dia baru bangun. 
"Ya!" Jawab Harris dengan suara masih parau dan sambil mengusap matanya yang belom sepenuhnya terbuka, membuka pintu kamarnya. 
"Titip ini ya tolong kasih ke Gilang." Kataku datar.
"Ini aja ya?" Tanya Harris sambil membolak-balikkan surat itu
"Iya, udah itu aja. Makasih ya, Ris. Eh, salam buat Gilang.." Kataku sambil mencoba untuk senyum. Kemudian aku balik ke kamarku lagi. 

***

Hari-hariku mulai hampa tanpa hadirnya Gilang disisiku lagi, seperti baru kemaren aku merasakan kebahagiaan, ada kekasih yang mengisi hari-hariku, namun belum puas aku merasakan kedekatan bersama orang yang aku sayang, tiba-tiba dia menghilang entah apa sebabnya.

Kuminta mbak Lina menemaniku pergi ke Kedai Meja Tiga sekedar melepas beban rindu dan rasa penasaranku atas sikap Gilang akhir-akhir ini. Disana kucurahkan semua air mata dan isi hatiku, ditemani mbak Lina juga mbak Dewi si pemilik kafe. Mereka menyarankan agar aku tetap sabar, tunggu penjelasan dari Gilang. Jangan gegabah karena hanya akan memperburuk keadaan. 
"Kalo perlu kamu dong yang ke kos nya, siapa tau dia sakit, hayo?" Tutur mbak Dewi. 
"Gitu ya mbak? Tapi aku malu.." Kataku belom-belom udah nervous. 
"Yah elaaahhh..."


Jogja, 24 Februari 2000

"Ran..." Kudengar suara Harris dibalik pintu kamarku. Segera kuhapus sisa-sisa air mataku. Hampir setiap hari, bangun tidur, sepulang dari kampus, mau tidur, aku hanya bisa nangis dan nangis. 
Pintu kamar kubuka dan aku gak peduli lagi entah seperti apa wajahku saat itu. 
"Ini ada surat dari Gilang.." Kata Harris singkat kemudian dia pamit. Mungkin dia tau aku lagi suntuk. 
"Oh iya makasih." Jawabku pendek. 

Kututup pintu kamar dan cepat-cepat kubuka surat mungil tanpa amplop itu. 

23 Februari 2000, 11.00 pm

Malam Rana...
Aku sudah membaca isi suratmu. Dan aku sangat mengerti perasaan kamu. Please jangan sedih ya? Aku benar-benar minta maaf sama kamu Rana, sepertinya aku gak bisa ngelanjutin hubungan kita. Aku lagi ada masalah keluarga dan aku gak mau kamu kena dampaknya. Tolong kamu ngertiin aku ya... Kamu terlalu baik buat aku Rana. Aku gak mau kamu jadi ikut kepikiran karena masalahku. Aku mau sendiri dulu. Maafkan aku gak bisa cerita semuanya. Semoga kamu dapet pengganti yang lebih baik dari aku. Makasih udah perhatian ma aku. 

From :
Gilang...


Kemudian pecahlah tangisku sore itu bagaikan disambar petir ditengah-tengah hujan yang deras di siang bolong.

Yes.. Confirmed! He broke my heart... 


(Bersambung ke Bagian 2)





Saturday, 30 January 2016

Cream Cheese Dessert

Sebelumnya kalo beli cream cheese hanya untuk olesan cake. Kali ini pengen mencoba dibuat makanan penutup alias dessert. Yuk kita simak cara bikinnya!

Bahan-bahan cream :
250 gr cream cheese
100 gr icing sugar
2 tsp condensed milk

Bahan pelengkap :
Digestive biscuits (roti mari)
Fresh milk
Whipped cream
Strawberry/cherry/messes/milo bubuk (untuk topping)

Caranya :
1. Mixer semua bahan cream sampai lembut sisihkan. 
2. Siapkan gelas kecil atau container kecil. 
3. Celupkan roti mari kedalam susu cair sebentar saja sebelum disusun di dalam container. 
4. Oleskan cream cheese diatas roti tebal tipisnya sesuai selera. Kemudian ulangi lagi sampai 3 layer atau sesuai tinggi gelas/container. 
5. Kemudian di lapisan terakhir roti semprotkan whipped cream dan topping sesuai selera. 
6. Masukkan ke dalam kulkas kurang lebih 1 jam, dan sajikan. 

Gampang kan? Anak-anak suka lho... 😆👌🏼

Monday, 3 August 2015

Sahabat Atau Teman?

Part 1

Sejak 15 tahunan yang lalu dalam hidup saya sudah tidak lagi mengenal kata 'sahabat'. Maaf aja ya, bagi saya sahabat itu memiliki arti lebih daripada teman. Menjadi lebih dekat, menjadi lebih cinta karena kita cenderung lebih menyukai teman yang satu ini daripada yang lain, menjadi lebih banyak peraturan/kesepakatan atau menjadi lebih posesif sampai kemanapun harus bersama. Nah, akhirnya justru malah bikin kita repot sendiri kan?

Kejadiannya berawal ketika saya masuk kuliah tahun pertama. Yang namanya anak muda yang beranjak dewasa, pertama kalinya 'keluar' rumah dalam arti bebas tanpa pengawasan orang tua. Hidup senang hanya dengan teman-teman kampus dan teman-teman kos. Bukan dengan segala peraturan ketat orang tua dan kekhawatiran mereka yang menurut saya waktu itu berlebihan... Hehehe!! Saya ketemu teman perempuan yang kebetulan satu kosan, dan dia asik banget deh kalo diajak ngobrol, diajak jalan, diajak begadangan sampai malem dikamar... Pokoknya kemana-mana kita selalu bersama dimana ada dia disitu pasti ada saya, tah elaaaaah suit suiitt!! Intinya saya menemukan seorang sahabat yang cocok, sehati, seiya dan sekata. Lebay memang, gapapa biasanya anak muda memang suka lebay kok....

Jadilah mulai posesif2 an, cemburu2 an.. Kalo dia mulai ada yang ditaksir (cowoklah biasaa..) atau sayanya yg diajak jalan sama cowok, dia agak sedih gimana gitu. Diihh ada yaaa, tapi emang kalo perempuan temenan itu begituu tauu.. 🙈🙈😂😂 
Sampai akhirnya, temen saya itu yang mulai menjauh dariku. Mulai jarang curhat2 lagi, mulai jarang main ke kamar. Dan dia sering pergi sama teman barunya. Ternyata selidik punya selidik (eh beneran deh waktu itu saya jadi sok-sokan kaya detektif, nanya2 sana sini hahahah..) dia udah punya pacar boooo'... Tapi dia merahasiakannya gak mau cerita sama saya. Pas tau ya, sakitnya tuh disiniiihhh 👉💖😭 eeeaaaaaa...
Karena alhamdulillah yaa, kita berteman waktu itu memang saya lebih ke sifat yang positif dan dia negatif nya. Dia lebih gampang terbawa ke hal2 baru dan gak mikir panjang kadang gak tau juga klo ternyata itu menjerumuskan dia. Sementara aku alirannya lempeng ajaaa... Lebih introvert dan mikirnya kepanjangan jadi selalu ketinggalan jaman deh kayanya wkwkwkwk.. 😂😂😂 jadi dia gak mau cerita ke saya karna sudah tau saya pasti gak bakal setuju kalo dia pacaran dengan cowok itu. 

Dan benar, beberapa lama setelah hubungan persahabatan kami renggang saya dapet kabar bahwa sahabat saya itu hamil diluar nikah. Naudzubillah...

Part 2

Memasuki tahun kedua kuliah, saya punya pacar (uhuk uhuk.. Citcuiitt!!). Gak perlu diceritain lah yaaa, terlalu indah untuk dilupakan namun terlalu sedih untuk dikenang.. Seeeeetttt?!?! 
Dari situ saya punya sahabat dekat lagi, sebagai teman curhat, teman belajar, teman jalan, teman ke mesjid (alhamdulillah masih inget sholat dan ngaji 🙈🙈), teman makan, teman masak2an bahkan teman tidur bareng jugak... (Eeeeehhh ini tidur bareng sama sahabat cewek saya yaaa bukan sama pacar saya catet!!) 😂😝 Kadang saya nginep dikos nya kadang dia nginep dikos saya, padahal deket. Jadi cuman numpang tidur aja semalem paginya habis subuh balik dikosnya lagi mandi ketemu lagi dikampus. Kadang juga gak tidur malah ngopi bareng jadilah begadang ngerumpiin cowok gak bisa tidur hahahaaaa!! Masuk kelas milih bangku deretan cowok di belakang kalo sempet tidur deeehh... Wkwkwkwk untung gak pernah ketauan dosen 🙈🙈 

Nah! Persahabatan kami boleh dibilang agak lamaan lah umurnya dibanding dengan yang di part 1. Sampai akhirnya kepentok masalah lagi. Intinya saya dibohongi, kata-kata saya tidak dipercaya, dikecewakan dan terkunci dibikin bingung gak bisa ngapa2 in. Dan saya capek! Lama-lama dia itu menganggap saya seperti malaikat apa ya?! Ketika dia perlu saya harus selalu ada disamping dia. Kalo lagi ada masalah sama pacarnya dia lari ke saya, gak mau tau kalo saya juga lagi pacaran (fiuh@&?!#%*€$) 😜 qiqiqiqi... Kalo dia minta tolong saya, saya harus bisa, gak bisa gak, kalo gak bisa dipaksa sampai saya bilang iya. Tapi kalo dinasehati, masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Didepan bilang iya tapi dibelakang dia bohong. Sampai ke masalah yang sangat sensitif ya, uang. Wah udah deh kalo begini caranya saya gak bisa lagi, saya nyerah. Saya gak mau lagi kejadian begini.

Seperti sahabat yg di part 1 tadi juga pada intinya sebenernya sama. Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Jadi semenjak saat itu, saya mulai merubah mindset saya. Saya tidak lagi menganggap seorang atau beberapa orang teman yang dekat sebagai seorang sahabat. Terlalu berlebihan buat saya. Dan ketika kita berharap terlalu banyak pada seseorang, yang ada kita malah akan banyak mendapat kekecewaan. Kalo ada yang menganggap saya sebagai sahabat monggo saja saya tidak apa-apa. Tapi maaf saja jangan bersedih kalo saya tidak bisa menganggap kalian sebagai sahabat 😊 

Part 3 (habis)

Saya berteman dengan siapa saja. Dengan si A, si B, si C, dan si D. Saya menganggap kalian semua adalah teman-teman yang saya sayangi. (Yang insyaallah saya menyebutkan nama-nama kalian yang saya sayangi dalam doa-doa saya). Dengan begitu, tidak ada rasa gimana-gimana lagi ketika si A jalan bareng dengan si B dan si C saja tanpa saya diajak. Begitupula ketika saya hanya mengajak makan bareng dengan si B dan si D saja, yang lain juga tidak akan merasa iri kalau seandainya si A dan si C mempunyai anggapan yang sama dengan saya tentang arti teman ini. Pada dasarnya, kita berteman kita saling sayang saling peduli. Akan tetapi kita tetap memberikan hak dan kebebasan pada masing-masing untuk juga berteman dengan siapa saja, karena kita berhak memilih siapa yang akan kita jadikan teman. 

Seperti saya, saya tetap memilih-milih mana teman saja mana teman dekat. Seperti di hadits kan ada, 
"Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu diantara kalian hendaknya memperhatikan siapa yg dia jadikan teman" (HR. Abu Dawud no. 4833 dan At Tirmidzi no. 2378. Ash-Shahihah no. 927)

Semua yang berteman dengan saya insyaallah saya menganggap kalian adalah teman-teman saya. Dan teman-teman dekat saya adalah mereka yang bersedia membantu disaat saya memerlukan, yang bersedia direpotin ketika saya kesusahan, bahkan mau menjadi tempat berbagi ketika datang sedihku atau gembiraku. Mereka yang saya merasa cocok dan nyaman ketika mencurahkan isi hati, begitupula sebaliknya. Mereka yang sepemikiran, sejalan, selaju seirama seiya sekata 😊😊. Pilihlah teman-teman yang shalih. Minimal diri kita akan tercegah dari perbuatan-perbuatn buruk dan maksiat. Teman yang shalih akan senantiasa menjaga dari maksiat, dan mengajak berlomba-lomba dalam kebaikan, serta meninggalkan kejelekan. Dia juga akan senantiasa menjagamu baik ketika bersamamu maupun tidak, dia juga akan memberimu manfaat dengan kecintaannya dan doanya kepadamu, baik ketika engkau masih hidup maupun setelah engkau tiada. Dia juga akan membantu menghilangkan kesulitanmu karena persahabatannya denganmu dan kecintaanya kepadamu. 

Semoga Allah Ta'ala senantiasa menjaga kita dan keluaraga kita dari pengaruh teman-teman yang buruk dan mengumpulkan kita bersama teman-teman yang baik. Allahumma Aamiin 💖💖

Tuesday, 6 January 2015

Itulah Indonesia!

Liburan akhir tahun kemaren kami lagi-lagi memilih balik kampung saja ke Indonesia. Gak tau kenapa ya, mungkin keluarga lain lebih memilih mengisi liburan mereka dengan jalan-jalan ke luar negri (eh kita ke luar negri juga sih ya? 😆😆😆).. Maksudnya ya ada yang ke hongkong, ke eropa, amerika, jepang, korea, bla bla bla... Tapi udah kurang lebih sepuluh tahun mas juragan kerja jadi TKI di Malaysia ini, paling jauh kami pergi ya ke... Hmm *mikir.. Surabaya! Ya Surabaya, itupun transit aja dari Jogja mau ke Bandung, tapi karena ada kesalahan tiket pesawat jadinya lewat Surabaya dulu 🙈🙈 hihihi... 

Tapi aku bukan mau membahas masalah travelling sih.. Cuma sedikit sharing tentang perkembangan perilaku masyarakat Indonesia saat ini. Karena aku lama tidak tinggal di Indonesia, jadi perubahan itu sangat 'nyolok moto' dan agak sedikit merasa jengkel karena sudah gak terbiasa, walopun sebenernya prihatin. 

1. Antri
Kemana perginya bebek-bebek model iklan 'Budayakan Antri' dulu? *sigh Selalu nervous setiap kali mau bayar di kasir. 

2. Kejujuran
Waktu habis parking di pinggir jalan kan biasa tuh disana suka ada tukang parkirnya. Paling 2000 kan ya untuk mobil? Mas juragan gak ada uang pas adanya lembaran 5000 rupiah. Dan udah bilang ke tukang parkirnya, 'Pak disusuki nggih, mboten enten duik pas' Diterimalah uang kertas 5000 an dan mulai semangat 'ngabani'. Eh, 'nglali' to kita disuruh terus jalan!! Lha susuke pundi pak? Trus baru deh dikasih kembaliannya. 

3. Etika jual beli
Bukannya mau membeda-bedakan di Indonesia atau dimanapun ya. Tapi ini lebih ke moral. Coba diperhatikan, kembalian dalam bentuk permen itu cuma ada di Indonesia. Jaman dulu seringkali kita ngalamin kan? Gak tau ya sekarang masih dilakukan atau tidak. Padahal itu jelas-jelas gak boleh dan ada aturannya di undang-undang. 
Yang masih inget kemaren waktu beli kaos kaki anak-anak. Si mbak kasir gak punya uang recehan, dia bilang gini 'Tapi kembaliannya kurang 200 rupiah gapapa ya bu?' *tepokjidatjenongsaya 🙈🙈 

4. Artis
Orang yang paling aku benci adalah artis! Ayo yang merasa artis silakan kalo mau protes hahaha 😆😆😆
Kenapa? Kalo udah merasa artis teope begete terkenal dimana-mana semua orang tau, pasti sifatnya mentang-mentang. Maaf ya kalo nulisnya sambil emosi 👊😡
Dan masyarakat awam bodoh, mau-maunya 'nyembah-nyembah' sama artis. Ya biarkan saja, memangnya kalo sudah jadi artis boleh nyerobot antrian? Dapet tempat duduk empuk, diruangan yang sejuk? Memangnya kalo orang udah tau dia artis langsung disapa manis dilempr senyuman dikasih welcome drink, yang orang biasa bodo amat. Padahal, emang kamu dikasih duit sama tu artis? Emang yang ngasih kamu makan tu artis? Yang ada kamu yang diinjek-injek sama artis! Berapa kali ya aku nulis artis disini? Hahaha 😆😆😆 
Mau protes? Ya dia artis mana pernah ngerasain apa yang dirasain orang biasa? 😝😝

5. Asap Rokok
Fiuhhh!!! Masyarakat itu sebenernya bodoh apa gak mikir sih ya? Tampang nya sih mentereng, kaya banyak duit gitu. Pakaiannya necis, rambutnya klimis, pake cincin yang batu akiknya segede pete 😂😂 tapi... Kok ngerokok didalem mall? Kok ngerokok didalam food court? Gak pernah keluar negri ya pak? Dirumah nya gak punya AC ya mas? Gak bisa baca tulisan atau rambu2 no smoking? Dulu SIM nya nembak sih... Lah loh kok jadi gak nyambung? 😝😝

6. Belom ada ide. Hehehe, tunggu aku balik kampung lagi ya. Insyaallah akan ada cerita-cerita menarik lainnya 😉 sampai jumpa! 

Saturday, 22 November 2014

Resep Paling Lezat Mi Ayam Bakso Pangsit ala CikFaga


Dasar orangnya rada-rada males, gak bakalan pernah nyoba kalo tanpa desakan dan sedikit paksaan dari orang lain. Karena bikin mi ayam ini memang njelimet padahal sebenernya bumbunya simpel aja lho. Resep sih udah ada ditumpukan. Tips dan trik-trik nya pun udah dikantongi dari sharing dgn temen-temen yg udah berpengalaman. Tinggal nunggu dipecut aja baru jalan hahahaa (emang kuda?)..

Nih lho ceritanya waktu itu temen pengajian ada yang rikues pengen dibikinin mi ayam. Ya udahlah jadinya bongkar-bongkar buku resep deh. Daaaan, lets get started...

Bahan-bahan :
💜 1 bks mi basah
💜 sawi pakchoy
💜 250gr kulit ayam utk minyak
💜 tulang ayam/ceker utk kuah kaldu
💜 ayam fillet
💜 sledri n daun bawang

Bumbu ayam:
❤️ bawang putih
❤️ garam
❤️ merica
❤️ kemiri
Semua bumbu diuleg

Bahan untuk sambel :
💚 5 cabe merah (rebus)
💚 3 cabe rawit (rebus)
Blender/tumbuk semua bahan sampai halus beri air kaldu 2 sendok teh

Bahan pelengkap :
💙 bawang goreng
💙 bakso (beli jadi)
💙 pangsit goreng (karena disini susah didapet, jadi aku biasa beli kulit popia lalu digoreng sendiri pakai planta. Jadinya semacem krupuk kulit pangsit yang renyah dan gurih. Gorengnya pake planta  supaya gurih dan kering tidak lemes).


How to :
1. Rebus tulang ayam dan ayam fillet smp air mendidih, ambil fillet potong kecil2. 
2. Panaskan kulit ayam dengan api kecil dan tanpa minyak ya.. Nanti lama-lama akan keluar sendiri minyaknya. Tapi memang perlu kesabaran. Sampe kulit kering kecoklatan kemudian saring, dinginkan dan minyak sisihkan. Masukkan kulit kedalam air kaldu. Lanjut rebus kaldu sampai mendidih masukkan daun bawang dan sledri matikan api. 
3. Tumis bumbu ayam pakai minyak ayam (guna sikit jer jangan semua) lalu masukkan potongan ayam fillet. Tumis smp matang dan wrn agak coklat. Kalau suka manis bisa ditambahkan kecap manis dan gula merah sedikit. 
4. Rebus pakchoy, angkat sisihkan. Air rebusan pakchoy masih panas buat manasin mi. Masukkan sebentar lalu tiriskan. Rendam dgn air es sebentar biar gak nempel2 mi nya. Kemudian campurkan mi dengan minyak ayam tadi sampai rata. 
5. Untuk sajian per porsi, ambil mi secukupnya taruh kedalam mangkok. Kemudian ambil ayam dan sawi secukupnya kemudian tuangi dengan kuah kaldu. Taburi bawang goreng. Sajikan dengan bakso dan pangsit tambahkan sambel, saus dan kecap. Mmmmm yummy!! 


Selamat Mencuba 😘


Resep dan Tips Membuat Caramel Cake (Kue Sarang Semut)

Suka banget sama cake ini karena manis hehehe.... Dari kecil kalo disodorin cake ini selalu anteng diem ngunyah habis deh.. Selama tinggal di KL jarang banget nemu makanya pas dikasih pinjeman buku resep dari temen eh kok ada caramel cake favorit, langsung deh nyoba bikin. Apalagi ngeliat bahan-bahannya gampang dicari banget. Dan kebetulan ada semua dirumah. Yuk disimak cara bikinnya...!!

Ingredients : 
400 gram sugar
450 ml hot water
180 gram low protein flour (sieve it)
50 gram corn flour
8 eggs
150 gram butter
2 tsp bicarbonate of soda
200 ml creamer

How To :
1. Panaskan gula pasir diatas pan/wajan (prefer teflon ya), masak diatas api kecil hingga mencair dan berwarna coklat tembaga. Kemudian tuangi air panas, biarkan mendidih dan gula larut.  Angkat dan dinginkan. 
2. Beat butter dan creamer sampai putih. Masukkan telur satu per satu sambil tetap di mixer hingga rata. Matikan mixer. 
3. Masukkan terigu yang sudah diayak bersama soda kue dan tepung maizena sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga rata. 
4. Tuang larutan gula caramel kedalam adonan sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga rata. 
5. Tuang adonan kedalam loyang tulban atau loyang persegi panjang yang telah diolesi butter dan ditaburi tepung. Jika ingin lebih mudah dan praktis gunakan baking spray. 
6. Panggang dalam oven menggunakan api bawah suhu 180 derajat celcius hingga matang. Kurang lebih selama 20-45 menit tergantung loyang dan masing-masing oven berbeda. Angkat dan keluarkan dari loyang. Sajikan. 

Tips :
Selama mencairkan gula jangan diaduk karena gula akan lengket. Goyangkan pan ke segala arah untuk meratakan. Ketika gula sudah mencair masukkan air dan caramel boleh diaduk hingga rata. 

Mmmm... Yummy!
Selamat mencoba... ❤️

Wednesday, 12 November 2014

Bahagia : Eropa dan Matahari vs Arab dan Hujan

Cerita ini pernah aku post di account instagram aku beberapa waktu yang lalu. 

Suatu siang pernah ngeliat anak muda bule nongkrong sendirian di taman seberang Twin Tower sambil sedakep. Spontan saja aku nyeletuk sama suami yang lagi disebelah..
"Ya ampun tu bule kenapa gak ngiyup (berteduh) aja sih? Kan panas bro.." 😁😁
Ternyata celetukanku berlanjut jadi diskusi panjang sepanjang jalan antara KLCC sampai Menara Goldhill.
Kata suami, "Bahagia itu relatif."
Iya sih... Orang-orang middle east bilang berjalan ditengah derasnya hujan itu bahagia. 
Begitu juga kata orang-orang bule, bahagianya itu ya berjemur dibawah terik matahari. 
Bahagianya mereka itu bentuk syukur atas nikmat yg tidak pernah mereka dapatkan. 

Dulu 10 tahun yang lalu, makan enak (istilahku pada sebuah menu/jenis makanan yang bagiku mahal harganya) itu cuma bisa kebeli dan dinikmati ketika pas baru gajian hehehe... 10 hari kemudian mulai sering puasa deh senin-kamis. Kadang senin dan kamis kadang senin sampai kamis, hihihihi... Subhanallah... Ketika sekarang apa-apa menjadi lebih mudah didapatkan terkadang aku justru kangen masa-masa itu. Bukan kangen masa susahnya tapi kangen masa-masa indahnya. 

Pernah suatu saat aku merasa kehabisan ide. Payah banget mau makan aja bingung. Sampe makan pizza aja bosen. Padahal dulu kayanya enaaaaakkk banget makan pizza yang cuma sekali satu dua bulan. Itulah kata suami, sebenarnya apa yang bertambah pada hakekatnya adalah berkurang. Makin sering kita makan pizza, malah makin berkurang nikmatnya makan pizza. Bahkan kalo kita mengkondisikan pizza sebagai makanan sehari-hari malah jadi gak ada nikmatnya sama sekali. Yang ada bosan itu tadi. 

Jadi bersyukur adalah ketika kita bisa menikmati apapun yang kita terima dalam kondisi susah ataupun senang. Selalu merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Dan berusaha tidak serakah, tidak aji mumpung. Seperti sabda Rasulullah, makanlah sebelum engkau lapar dan berhenti makan sebelum engkau kenyang

Jika kita melakukan sesuatu pada waktu yang tepat nikmatnya akan lebih terasa. Dan janganlah kita terlalu berlebihan karena segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Sebisa mungkin kita mengambil hikmah dari segala yang terjadi. Karena belum tentu yang tampak buruk di mata kita itu buruk pula di mata Allah. Seperti ketika mulut kita sariawan atau sakit gigi. Kira-kira nikmatnya tetap atau berkurang ya? Hayoooo... Kira-kira kita akan mengeluh atau justru malah bersyukur yaa?? 😜😜 
Yang penting sih, apapun keadaannya kudu tetep bersyukur yak.. Hikmahnya berarti kita disuruh diet dulu gak bisa makan banyak-banyak dan enak-enak. Dosa-dosa kecil dihapus karena kita ridho dengan sakit kita, dan bonusnya langsing deh... Hehehe.. 🙏🙏