Monday, 1 February 2016

Romantika Gilang dan Rana (Bagian 1)

Jogja, 18 Desember 1999

"Hey! Rana?"
Sesaat langkahku terhenti didepan pintu kamar Harris, temen satu kos dari Bandung tapi fasih berbahasa Jawa. Tapi kok bukan suara si empunya kamar? Kos-kosan aku memang penghuninya campur, laki-laki dan perempuan. Jadi semua tamu baik laki-laki maupun perempuan diijinkan masuk kamar oleh  ibu kos ku. Asalkan tetap tanggungjawab. 
"Iya, eh siapa ya?" Tanyaku. 
"Aku Gilang, kenalin.. Temennya Harris satu kelas. Harris nya masih di kampus." Kata Gilang sambil mengulurkan tangannya kearahku, suaranya jelas dan sedikit ngebas layaknya penyiar radio.
"Kok tau namaku?" Lalu aku bertanya. 
"Harris yang bilang." Diapun senyum simpul. 
Lalu kami berdua ngobrol singkat sambil duduk dibawah masih didepan kamar Harris. Ngobrol seputar tempat asal kami masing-masing, tukeran no telpon, waktu itu belom jaman handphone apalagi sosial media seperti sekarang.
Padahal postur tubuh si Gilang ini agak kurus, ceking, setipe gitu deh sama Duta Sheila on 7, tapi suaranya sumpah merdunya mirip penyiar radio! Qiqiqi... Jadi betah aja ngobrolnya sampai si Harris yang punya kamar datang, dan barulah aku kembali ke kamarku. 


Jogja, 19 Desember 1999

"Ranaaaaa..." Suara ibu kos memanggil, tandanya ada orang yang datang mencariku. 
Eh? Dalam hatiku agak kaget, gak salah nih? Itu yang duduk di ruang tamu kan Gilang. Kok nyari aku? Sambil penasaran aku keluar kamar jalan menuju ke arah seseorang yang baru kukenal kemarin, duduk layaknya seorang cowok dengan kedua sikunya bertumpu di kedua pahanya santai, aku bergumam dalam hati 'Ternyata kece juga ya nih cowok?' sambil melambaikan tangan kearahnya dan disambut dengan senyuman yang oh my God, makin bikin diriku jadi deg deg ser aja... 
"Hallo.." Sapa Gilang
"Hai! Nyari aku?" Tanyaku polos sambil isyarat tanganku menunjuk ke kamar Harris.
"Iya. Oh Harris kan dia pulang kampung. Eh, kamu lagi ngapain, tidur ya?" 
"Gak.. Lagi nyetem gitar."
"Oh iya, kata Harris kamu bisa main gitar ya?"
"Hehe.. Eh Harris cerita apa sih tentang aku? Parah deh tu anak.."
"Hahaha! Curiga aja, Non.." Candanya kemudian. "Ayo, ajarin aku dong? Sini ambil gitarnya" lanjutnya. 
Dan kamipun terhanyut dalam buaian gitar-gitar asmara untuk yang pertama kalinya. Uhuuy...
Lagu pertama yang aku mainkan untuknya waktu itu adalah Kiss Me by Sixpence None The Richer. Ini bukan modus yaa, catet!


Solo, 25 Desember 1999

Kriiing.. Suara telpon hitam jadul dirumah orangtuaku berdering. Saking kencengnya sampai-sampai aku yang lagi di WC ikutan terkaget-kaget hihihi.. Mungkin aku terlalu menghayati. 
"Ranaaa, telpoooon.. Dijawab gak?" Kata ibuku
"Yaaa.." Teriakku sambil buru-buru menuntaskan yang harus dituntaskan. Aku bergegas menuju ruang tengah dimana telfon kuno itu berada. 
"Hallo.." Sapaku perlahan, kurang tau juga siapa diseberang sana karena tidak menyebutkan nama. 
"Hallo, Rana ya?" 
Aaaaaah.. Suara khas itu... "Eh kamu?" Jawabku sumringah. Gak berani nyebut namanya juga takut kedengeran si Ibu hihihi... Padahal juga gak papa sih. Tapi namanya juga mahasiswi baru masih takut ketahuan kalo jatuh cinta. Apah? Jatuh cinta? Ranaaaaaaa jatuh cintaaaaaa???

Sepertinya memang benar, Rana mantan anak band eh, dia mah lebih suka disebut sebagai cewek multitalented sih daripada anak band. Iya, soalnya alat musik apa aja dia bisa.
Nah, lanjut.. Rana yang aslinya tomboy, yang temennya cowok semua, yang keseringan mainin senar gitar daripada melukis alis sendiri. Yang lebih fasih megang stik drum daripada megang lipstik. Rana yang koleksi topi, sneakers  dan jaketnya menuh-menuhin lemari. Rana yang gak punya rok, sekarang lagi jatuh cintaaaa??? Aaaiiiiiihhh... Apa kata emak gueeee???

Yang jelas malam harinya setelah siangnya ditelpon Gilang yang lagi mudik di Bandung, aku gak bisa tidur. Saat-saat perkenalan dengan Gilang, saat-saat berdua main gitar, saat-saat naik motor berdua pake motor pinjeman (siapa lagi kalo bukan motor si Harris), saat-saat minum es buah di salah satu pojok trotoar Malioboro semangkok berdua hihihi, karena harganya gila bo' Rp. 15.000 satu mangkok!! Buat mahasiswa kala itu cukup mahal. Semua itu masih sangat jelas melayang dipikiranku. Ternyata aku sangat merindukannya. Oh malam, tolong sampaikan padanya bahwa aku amat sangat merindukan Gilang nun jauh disana.Ya, kampus lagi libur Lebaran waktu itu. Semua mahasiswa pulang ke kampung halaman masing-masing. 

Aku belum pernah merasakan rindu yang sehebat ini sebelumnya. Rindu yang teramat dalam dan tak terungkapkan. Sampai-sampai aku meneteskan air mata entah karena saking rindunya atau entah karena gak tau lagi apa yang bisa aku lakukan untuk menepis rasa ini. Baru kali ini aku kangen berat dengan seseorang sampai sedih, nyesek didada. Pada siapa aku mengungkapkannya pun aku gak ngerti. Aku coba memutar sederetan nomor dengan kode kota Bandung, setelah terjawab malah aku tutup. Aish! Bener-bener yaah! Ternyata rindu itu menyakitkan. Gilaaaaaang... Kamu merasakan hal yang sama gak sih? Ingin kuteriak rasanya.. 

Dan akhirnya akupun tertidur dalam keadaan rindu melanda di sofa depan TV.


Jogja, 13 Februari 2000

Seminggu sudah kami kembali ke kampus. Sudah menjadi kebiasaan pulang dari kampus Gilang selalu mampir ke kamarku. Dan memang sudah biasa juga dia main ke kamar Harris. Kadang sambil nunggu Harris datang Gilang main gitar dulu di kamarku. Hmmm... Jadi semangat dan berbunga-bunga sambil bikin tugas denger backsound nya petikan gitar si Gilang memainkan lagunya Bunga, Kasih Jangan Kau Pergi. Ah dia mah pura-pura gak bisa main gitar, pura-pura minta ajarin ternyata ada maunya. Gombal yang membawa berkah hihihi... 

"Eh, Rana!" 
Gilang adalah satu-satunya orang yang memanggilku lengkap Rana. Gak seperti temen-temen yang lain, ada yg manggil Ran, atau Na. 
"Aku balik dulu yah?" Lanjut Gilang, "Ntar malem aku jemput kamu kita keluar yuk? Ok yaah! Daaahh.." Sambil ngeloyor dia pergi aja gitu dari kamarku tanpa memberi kesempatan aku menjawab ajakannya. 

Hadeuh! *tepok jidat.. Kan nanti malam temen-temen kos mau ngerayain valentine. Waduh gaswat! Udah terlanjur janjian, si Jenny udah mesen kue, ini coklat buat tukeran kadopun udah aku bungkus ala kadarnya pake kertas koran. Tapiiiii, aku juga pengen pergi sama Gilang. Hmmm.. Aku ke mbak Lina dulu deh...
"Mbak Liiiin..." Sambil gedorin pintu kamar mbak Lina, cewek tinggi semampai berparas cantik dua tahun lebih tua dariku, asal Tegal. Sayang, cantik cantik tapi bikin ketawa kalo denger dia ngomong. Logat Tegal nya itu lho gak tahan, hihihi. Dalam hati cekikikan sendiri didepan kamarnya sambil nunggu dibukain pintu. 

Setelah menjelaskan duduk permasalahannya, kaya yang serius amat yah? Walaupun dengan wajah merah menahan malu karena jadi ketauan deh kalo Gilang lagi ada usaha, hihihi.. Tapi akhirnya dengan bijaksana alias mau mengerti perasaan adek kelasnya ini, Mbak Lina memberikan waktu untukku jalan bersama Gilang sampai pukul 9 malam. Kalo telat dihukum! Maaaaakk... Aku bukan Siti Nurbayaaaa, eh Cinderella... Ah tapi gak papa lah! Lumayan hihihi...

Waktu telah tiba, akupun akhirnya sudah memutuskan untuk pakai jeans belel dan t-shirt putih polos berkerah lebar, bergaris-garis warna hitam di bagian lengan dan gak ketinggalan jaket jeans kebanggan. Setelah berkeliling dari kamar ke kamar minta wangsit dari temen-temen yang lebih pinter soal mix and match tapi semua pilihan mereka norak bin ajaib. Ah sudahlah, as usual Rana yang masih tomboy tetap memilih pakaian casual. Tanpa polesan make up dan rambut sebahu yang disisir seadanya. Baginya menjadi diri sendiri lebih penting daripada berusaha menyenangkan orang lain tapi diri sendiri merasa tidak nyaman. 

Tiba-tiba lamunanku buyar ketika seseorang mengetuk pintu kamarku. 
Pintu kamar kubuka lebar dan berdirilah dihadapanku, qiqiqi aku pikir Teuku Ryan, artis yang ngetop pada masa itu. Segera ku kucek-kucek mataku, ternyata sesosok makhluk yang gak kalah ganteng sama Fedi Nuril, pake jaket jeans juga, rambut disisir rapi. Dua tangannya sembunyi dibalik punggungnya. 
"Hallo... Nih, buat kamu!" Sapanya kemudian senyum dan menyusullah rangkaian bunga mawar merah, kuning dan pink berpita biru dari balik punggungnya. 
"Ya ampuuuuunn... Makasiiiiihhh" seruku yakin gak bisa menutupi rasa happy campur malu pasti pipiku merah merona.
"Sesuai kan sama warna kesukaan kamu, biru.. Pitanya doang siihh" Kata Gilang agak salah tingkah. 

Spontan bunga dari Gilang aku terima dan kucium tanda aku menyukainya. Lalu aku mencari botol kaca bekas seadanya didapur kos-kosan dan kutaruhlah bunga itu sementara didalamnya dan kuletakkan diatas meja belajarku. Kemudian aku mengunci pintu kamar dan tiba-tiba Gilang menggandeng tanganku lalu kami berjalan keluar. 
"Suit suiiiiittt...!" Asem bener suara itu mengganggu saja. Ternyata Jenny, mbak Lina, Yetty dan Dwita turut menyeponsori kejadian ini. Aku dan Gilang hanya pandang-pandangan kemudian mempercepat langkah supaya segera lepas dari gangguan mereka. 

Setelah menyalakan motornya, lalu aku duduk dibelakang Gilang. 
"Pegangan dong Rana, nanti jatuh." Kata Gilang padaku. 
"Malu ah.." Kataku 
"Ya udah pegangan jaketku aja." Pintanya kemudian. 

Padahal dibelakang dia aku tersipu-sipu malu, eits lupa ada kaca spion! Bisa ketauan nih. Oops..
Kali ini Gilang bawa motor teman kos nya. Maklumlah dia gak dikasih kendaraan sama bapaknya. Khawatir di Jogja bukannya kuliah malah jalan terus. 

Kurang lebih 30 menit dijalan sampailah kita disebuah kafe, tempat nongkrong favorit anak muda pada masa itu. Namanya Kedai Meja Tiga. Sebuah kafe dengan konsep romantik cocok untuk candle light dinner disaat malam valentine kala itu. Entah kenapa dinamakan kedai meja tiga asal usulnya kurang tau, tapi kononnya sih awal-awal kafe itu dibuka cuma ada 3 meja dan 6 kursi. Dan dikarenakan bertambahnya customer yang datang ke kafe itu sekarang tidak cuma 3 meja tapi banyak. 

Kebetulan aku sering datang ke kafe itu bareng temen-temen, jadi udah kenal dekat dengan pemilik kafe, Mbak Dewi. Baru lulus kuliah, dikasih modal oleh orangtuanya yang saat itu menjadi salah satu pejabat pemerintah kota Jogja, untuk membuka kafe. 
"Haaaiii Ranaaaa!!" Sapa mbak Dewi begitu melihatku di kejauhan. Biasa dia memang selalu heboh tiap kali ketemu aku. Aku hanya melambaikan tangan kearahnya. 
"Ranaaaaa... Kemana aja kamu? Lama gak kesini.." Sambutnya sambil kita ber cipika cipiki. 
"Ah mbak Dewi aja yang gak pernah disini kalo aku dateng. Minggu lalu aku kesini kok berdua ma Jenny, sore jam 4 an gitu."
"Oooh aku udah cabut dari jam 2 an soalnya harus nganter Mama, biasa mau shopping hehe.. Eh, siapa tuh? Pacar baru? Kenalin dong, Rana gitu deh.." Mbak Dewi emang hobi menggodaku. 
Langsung kucubit pinggang mbak Dewi, "Ssst... Bukan. Temen, mbak!" Koreksiku. Gilang sih senyam-senyum aja. Lalu mereka kenalan. Mbak Dewi mempersilakan kami untuk menikmati makanan pesanan kami. 

Singkat cerita, tidak terjadi apa-apa disana. Aku dan Gilang hanya ngobrol seputar keluarganya, keluargaku. Tentang masa SMA dulu dan semua hal yang pernah kita lakukan masing-masing dari kejadian biasa sampai kejadian konyol dan memalukan. Tapi gak ada jaim diantara kita. Jaim lagi ke laut wkwkwk.. Semuanya mengalir begitu saja seakan-akan kami udah lama saling kenal. 

Aku melirik jam ditanganku. Aduh! Jam 9 lebih 10 menit! Gak terasa 2 jam berlalu secepat itu. 
"Gilang, pulang yuk? Ditunggu temen-temen ntar aku gak dibukain pintu pula klo telat.." Pintaku sedikit panik. 
"Bener? Jadi pulang sekarang nih?" Tanyanya setengah menggoda. 
"Yuk ah cepetan!" Sambil kucubit lengannya. Dia nyengir aja sambil merogoh kunci motor GL-Pro disaku celananya. 

Tepat jam 10 malam, aku sampai dikos dan teman-temanku masih setia menunggu. Biasalah, langsung disuruh konferensi pers. Kemudian kenorakan dimulai. Dan berakhir jam 12 malam, masing-masing masuk ke kamarnya. Dan aku, masih membayangkan wajah Gilang dan segala sikapnya yang misterius. 'Dia suka gak sih sama aku?' Batinku. Kalo suka kok gak nembak? Kalo gak suka kenapa perhatian? Ah Rana, please be calm!


Jogja, 17 Februari 2000

Siang itu agak mendung, Gilang datang seperti biasa dia masuk kamar langsung ambil gitar dan memainkannya. Aku masih sibuk dengan tugas-tugas mata kuliah Bisnis Plan yang membuatku harus menghayal. Namun lagu Pelangi Di Matamu punya Jamrud yang Gilang nyanyikan membuatku menghayal jauh ke tempat lain. Hihihi! 
"Kok berenti?" Tanyaku kemudian memecah kesunyian karena petikan gitarnya tak terdengar kira-kira 30 detik. Aku menoleh ke arahnya 1 detik kemudian kulanjutkan menulis lagi. Tapi pertanyaanku tak dijawab. 
"Rana, sini dong?" Katanya pelan.
Mendadak aku jadi salah tingkah, dan mencoba keep calm pindah dari kursi belajar ke karpet dan duduk di sebelah Gilang. 
"Ada apa?" Tanyaku sedikit curiga
"Rana, kamu itu lucu yaah.." 
"Laaaah kok lucu emang badut?" Kupukul lengan Gilang ala-ala petinju, dia hampir ambruk dan mencoba bertahan lalu kembali ke posisi semula. Kami ketawa berbarengan melepas sejenak kegugupan yang ada. 
"Abdi.. Hoyong.. Ka anjeun.." Katanya lembut dan pelan. 
"Ngomong apa sih? Gak ngerti.." Aku bingung dia ngomong bahasa Sunda yang aku gak ngerti babar blas artinya. 
Lagi-lagi dia cuma mesam-mesem penuh arti. Sesekali mengusap-usap hidungnya, membetulkan rambutnya yang agak gondrong. Yang jelas dia grogi. 
"Gak.. Gini lho, kamu... Mau gak.. Jadi pacar aku?" 
Sontak aku kaget sekaligus gak percaya. 
Akhirnya Gilang nembak jugaaaaa! Rasanya gak karuan di dadaku campur-campur semua deh ada disini. Antara seneng, deg-degan tapi juga gengsi dan malu. Aku belom bisa berkata-kata hanya melipat kedua kaki dan kudekap di dada erat-erat, menunduk malu-malu tapi sebenernya mau juga siiihh. Hahahah!! Dia menyandarkan gitarnya di dinding lalu meraih tanganku dan menggenggamnya. Jantungku makin berdegup kencang saja. 
"Rana? Kamu sayang gak sama aku?" Tanyanya menanti jawaban sambil terus menatapku.
Aku hanya bisa membalas tatapannya dengan senyum dan mengangguk. Diapun menerima isyaratku. Lalu kamipun tersenyum, dia peluk aku dan akupun jatuh dalam pelukannya. 
"Makasih ya Rana.. I love you since we met at the first time." Katanya
"What?? Sama dong." Akhirnya akupun mengakuinya. 
"Oh ya? Ini gak mimpi kan?" Diapun seakan-akan gak percaya sambil mencubit-cubit tanganku.
"Aaaww! Sakit tau.."
Lalu diciumnya tanganku dengan lembut. 


Aku ambil gitar dan kumainkan instrumen lagu favorit kami dari Bunga, Kasih Jangan Pergi. Kemudian Gilang pun bernyanyi untukku. Suaranya lumayan. Kolaborasi yang pas, menurut yang lagi terpanah asmara. Pokoknya dunia milik berdua deh. Ah betapa bahagianya kami saat itu. 


Jogja, 19 Februari 2000

Malam minggu pertama kami setelah jadian pun tiba. Pagi sampai siang kami sama-sama ada kuliah dan hanya sempat ketemu sebentar di kampus. Aku dan Gilang beda jurusan jadi jadwal kuliah pun kadang tidak sama. Hari itu aku kuliah hanya sampai jam 12.30 siang. Tapi Gilang ada kuliah lagi jam 3.30 sore. Jadi kami hanya bertemu dari jam 1 siang sampai jam 3.30 sore. Kampus kami cukup dekat hanya perlu jalan kaki 2 menit dari kos. Dan kos aku dengan kos Gilang hanya berjarak sekitar 200 meter. 

Akhir pekan kali ini aku tetap di kos dan tidak pulang ke Solo seperti minggu-minggu sebelumnya. Kan ada pacar baru... Hihihi. 

Jam 7 lewat 15 menit Gilang menjemputku kemudian kami berjalan kaki ke warung mahasiswa dekat kampus untuk makan malam. Tidak seperti mahasiswa jaman sekarang, mahasiswa angkatan tahun 90 an makan di angkringan pun asal berdua sama pacar, serasa candle light dinner di kafe mahal hihihi... Bedanya di kafe pake lilin beraroma kalo di angkringan pake petromak, hahaha!!


Ternyata orang tua Gilang sudah berpisah sejak dia SMP. Dia punya adik laki-laki satu, tinggal bersama ibunya. Sementara Gilang tinggal bersama bapaknya yang sudah menikah lagi dan mempunyai seorang anak perempuan. Namanya Rury. Dia sangat sayang dengan adik perempuannya yang waktu itu masih berumur sekitar 5 tahun.
Aku jadi terharu mendengar cerita tentang kehidupan Gilang. Dia bilang, kalo dia menikah nanti gak mau seperti orangtuanya, sebisa mungkin akan dia jaga agar keluarga tetap utuh kasihan anak-anak yang jadi korbannya. 

Gilang, walaupun dia satu tahun lebih muda dariku dia sangat dewasa. Mungkin pengalaman hidupnya yang membuat dia cepat dewasa. Terlihat dari cara ngomongnya, caranya dia berfikir dan melihat sesuatu. Cara dia memperlakukan aku. He is so sweet, dia selalu berjalan disebelah kananku dan memegang tanganku ketika menyeberang bersama. Dia sangat memperhatikan aku, itulah sebabnya aku begitu jatuh hati padanya. Hingga suatu hari...


Jogja, 22 Februari 2000

Tiga hari sudah Gilang tak kunjung datang ke kos seperti biasa. Hari-hari berlalu tanpa aku mendengar kabar tentang Gilang lagi. Diapun gak kelihatan menemui Harris sobat kentalnya itu. Padahal sehari bisa 3 kali dia bolak-balik datang. Lah ini enggak, membuatku cemas sekaligus galau. 

Kebetulan tadi pagi kami berpapasan di kampus, aku dan teman-temanku sedang duduk sambil membahas materi kuliah yang baru saja disampaikan dosen, di kursi panjang depan kelas Manajemen. Aku lihat Gilang berjalan bersebelahan dengan Harris menuju ke kelas Akuntansi. Gilang melihatku kemudian senyum sambil gerak bibirnya mengisyaratkan 'aku masuk kelas dulu yaa' Akupun membalas senyumnya dan mengangguk tanda okay. 


Jogja, 23 Februari 2000

Kutunggu dan kutunggu, gak pernah datang jawaban yang pasti. Ini gak biasa, ada yang gak beres kayanya. Tapi apa? Kenapa Gilang gak memberitahuku? Aku ini pacarnya kan? Aku mulai gelisah, kuliah gak konsen, tidur gak nyenyak, makan pun gak selera. Setiap bangun tidur selalu yang terbayang pertama kali hanyalah wajah Gilang. Aku bisa gila kalo lama-lama dibiarkan seperti ini. Akupun berinisiatif menulis surat untuk Gilang. Bodohnya aku, aku gak punya keberanian untuk datang ke kos Gilang menanyakan sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Lalu kuambil bolpen bertinta biru warna kesukaanku, dan kutulislah surat untuk Gilang...

Rabu, 23.02.00, 05.00 am.

Dear, Gilang...
Apakabar sayang? Semoga kamu baik-baik aja. Kamu kemana aja selama ini? Kenapa kamu gak ngasih kabar, gak datang lagi ke kosan aku? Aku kan jadi bingung, paling gak kamu cerita dong ke aku. Siapa tau aku bisa bantu. Tapi gak begini caranya. Kamu gak mikirin perasaanku. Aku kangen kamu, Gilang...

Atau aku udah buat kamu marah ya? Aku minta maaf kalo udah buat kamu kecewa dan gak mau nemuin aku lagi. Tapi please Gilang kasih tau aku.. Dimana kesalahanku?

Sayang, asal kamu tau ya aku tuh sayang banget sama kamu. Aku harap kamu juga bener-bener sayang ma aku. Tolong balas suratku ini... Aku pengen kita sama-sama lagi seperti kemaren-kemaren. Sampai kapanpun aku akan tetap nunggu kamu Gilang. Kamu lihat kertas yang masih basah dan tulisan yang luntur itu kan? Itu tetesan air mataku... Supaya kamu tau kalo aku bener-bener sayang kamu...

With love,
Rana, yang lagi sedih..

Setelah kubaca ulang lalu kertas kulipat, kemudian naik ke lantai atas ke kamar Harris untuk menitipkan surat itu. 
Kupanggil Harris sambil kuketuk pintu kamarnya yang masih tertutup. Ternyata dia baru bangun. 
"Ya!" Jawab Harris dengan suara masih parau dan sambil mengusap matanya yang belom sepenuhnya terbuka, membuka pintu kamarnya. 
"Titip ini ya tolong kasih ke Gilang." Kataku datar.
"Ini aja ya?" Tanya Harris sambil membolak-balikkan surat itu
"Iya, udah itu aja. Makasih ya, Ris. Eh, salam buat Gilang.." Kataku sambil mencoba untuk senyum. Kemudian aku balik ke kamarku lagi. 

***

Hari-hariku mulai hampa tanpa hadirnya Gilang disisiku lagi, seperti baru kemaren aku merasakan kebahagiaan, ada kekasih yang mengisi hari-hariku, namun belum puas aku merasakan kedekatan bersama orang yang aku sayang, tiba-tiba dia menghilang entah apa sebabnya.

Kuminta mbak Lina menemaniku pergi ke Kedai Meja Tiga sekedar melepas beban rindu dan rasa penasaranku atas sikap Gilang akhir-akhir ini. Disana kucurahkan semua air mata dan isi hatiku, ditemani mbak Lina juga mbak Dewi si pemilik kafe. Mereka menyarankan agar aku tetap sabar, tunggu penjelasan dari Gilang. Jangan gegabah karena hanya akan memperburuk keadaan. 
"Kalo perlu kamu dong yang ke kos nya, siapa tau dia sakit, hayo?" Tutur mbak Dewi. 
"Gitu ya mbak? Tapi aku malu.." Kataku belom-belom udah nervous. 
"Yah elaaahhh..."


Jogja, 24 Februari 2000

"Ran..." Kudengar suara Harris dibalik pintu kamarku. Segera kuhapus sisa-sisa air mataku. Hampir setiap hari, bangun tidur, sepulang dari kampus, mau tidur, aku hanya bisa nangis dan nangis. 
Pintu kamar kubuka dan aku gak peduli lagi entah seperti apa wajahku saat itu. 
"Ini ada surat dari Gilang.." Kata Harris singkat kemudian dia pamit. Mungkin dia tau aku lagi suntuk. 
"Oh iya makasih." Jawabku pendek. 

Kututup pintu kamar dan cepat-cepat kubuka surat mungil tanpa amplop itu. 

23 Februari 2000, 11.00 pm

Malam Rana...
Aku sudah membaca isi suratmu. Dan aku sangat mengerti perasaan kamu. Please jangan sedih ya? Aku benar-benar minta maaf sama kamu Rana, sepertinya aku gak bisa ngelanjutin hubungan kita. Aku lagi ada masalah keluarga dan aku gak mau kamu kena dampaknya. Tolong kamu ngertiin aku ya... Kamu terlalu baik buat aku Rana. Aku gak mau kamu jadi ikut kepikiran karena masalahku. Aku mau sendiri dulu. Maafkan aku gak bisa cerita semuanya. Semoga kamu dapet pengganti yang lebih baik dari aku. Makasih udah perhatian ma aku. 

From :
Gilang...


Kemudian pecahlah tangisku sore itu bagaikan disambar petir ditengah-tengah hujan yang deras di siang bolong.

Yes.. Confirmed! He broke my heart... 


(Bersambung ke Bagian 2)





No comments:

Post a Comment