Wednesday, 12 November 2014

Bahagia : Eropa dan Matahari vs Arab dan Hujan

Cerita ini pernah aku post di account instagram aku beberapa waktu yang lalu. 

Suatu siang pernah ngeliat anak muda bule nongkrong sendirian di taman seberang Twin Tower sambil sedakep. Spontan saja aku nyeletuk sama suami yang lagi disebelah..
"Ya ampun tu bule kenapa gak ngiyup (berteduh) aja sih? Kan panas bro.." 😁😁
Ternyata celetukanku berlanjut jadi diskusi panjang sepanjang jalan antara KLCC sampai Menara Goldhill.
Kata suami, "Bahagia itu relatif."
Iya sih... Orang-orang middle east bilang berjalan ditengah derasnya hujan itu bahagia. 
Begitu juga kata orang-orang bule, bahagianya itu ya berjemur dibawah terik matahari. 
Bahagianya mereka itu bentuk syukur atas nikmat yg tidak pernah mereka dapatkan. 

Dulu 10 tahun yang lalu, makan enak (istilahku pada sebuah menu/jenis makanan yang bagiku mahal harganya) itu cuma bisa kebeli dan dinikmati ketika pas baru gajian hehehe... 10 hari kemudian mulai sering puasa deh senin-kamis. Kadang senin dan kamis kadang senin sampai kamis, hihihihi... Subhanallah... Ketika sekarang apa-apa menjadi lebih mudah didapatkan terkadang aku justru kangen masa-masa itu. Bukan kangen masa susahnya tapi kangen masa-masa indahnya. 

Pernah suatu saat aku merasa kehabisan ide. Payah banget mau makan aja bingung. Sampe makan pizza aja bosen. Padahal dulu kayanya enaaaaakkk banget makan pizza yang cuma sekali satu dua bulan. Itulah kata suami, sebenarnya apa yang bertambah pada hakekatnya adalah berkurang. Makin sering kita makan pizza, malah makin berkurang nikmatnya makan pizza. Bahkan kalo kita mengkondisikan pizza sebagai makanan sehari-hari malah jadi gak ada nikmatnya sama sekali. Yang ada bosan itu tadi. 

Jadi bersyukur adalah ketika kita bisa menikmati apapun yang kita terima dalam kondisi susah ataupun senang. Selalu merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Dan berusaha tidak serakah, tidak aji mumpung. Seperti sabda Rasulullah, makanlah sebelum engkau lapar dan berhenti makan sebelum engkau kenyang

Jika kita melakukan sesuatu pada waktu yang tepat nikmatnya akan lebih terasa. Dan janganlah kita terlalu berlebihan karena segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Sebisa mungkin kita mengambil hikmah dari segala yang terjadi. Karena belum tentu yang tampak buruk di mata kita itu buruk pula di mata Allah. Seperti ketika mulut kita sariawan atau sakit gigi. Kira-kira nikmatnya tetap atau berkurang ya? Hayoooo... Kira-kira kita akan mengeluh atau justru malah bersyukur yaa?? 😜😜 
Yang penting sih, apapun keadaannya kudu tetep bersyukur yak.. Hikmahnya berarti kita disuruh diet dulu gak bisa makan banyak-banyak dan enak-enak. Dosa-dosa kecil dihapus karena kita ridho dengan sakit kita, dan bonusnya langsing deh... Hehehe.. 🙏🙏


No comments:

Post a Comment