Saturday, 6 February 2016

Romantika Gilang dan Rana (Bagian 2)

4 Tahun kemudian...

Jogja, 28 Juni 2004

Bulan September tahun 2003 aku lulus kuliah dan memutuskan pulang ke Solo saja sambil melamar pekerjaan. Tapi mungkin memang sudah namanya rejeki, baru 9 bulan dirumah aku harus kembali lagi ke Jogja. Karena aku diterima bekerja sebagai pegawai di salah satu bank swasta ternama di kota kenangan itu. 

Sangat tidak mudah melewati 4 tahun dengan sisa-sisa kenanganku bersama Gilang. Mana satu kampus, kos-kosan dekat, bukan tak jarang kami sering berpapasan maupun bertemu dalam satu  tempat makan atau wartel dan warnet. Meski begitu singkat, namun hari-hari bersamanya sungguh berkesan, dia benar-benar sosok yang aku dambakan untuk menjadi pendamping hidupku. Dia sangat berarti. Sampai-sampai aku sempat jatuh sakit. Selama 2 minggu gak bisa makan nasi. Panas demam, seluruh rongga mulut penuh sariawan. Minum air putih pun perihnya bukan main. Akhirnya badanku yang udah kurus begeng begini tambah tipis aja kaya peragawati, hmmm.. Sedih... Kata dokter aku terlalu banyak pikiran. Stress lah bahasa gaulnya. 

Benar-benar aku gak sanggup melupakan Gilang dari ingatanku. Namanya sudah terlanjur melekat terukir di salah satu sudut hatiku, sulit digantikan dengan yang lain. Lagi-lagi aku menitikkan air mata disaat aku teringat wajah manis bermata minus itu. Dimana dia berada ya Tuhan? Lindungilah dia, pertemukanlah kami kembali jika dia memang jodohku ya Tuhan... 

Jogja, 12 Agustus 2004
Kantor
Akhirnya selesai juga masa training ku sebagai pegawai bank. Hari ini aku resmi memakai seragam, blouse putih, blazer biru dan rok sepan biru. Aku suka seragam ini. Yaaa betul, because it's blue hahaha... Kata temen-temen Rana yang sekarang kelihatan feminin, sudah gak kaku lagi ketika pakai rok, bisa dandan, dan high heels adalah sepatu wajibku selama bertugas. Meski berangkat dan pulang kerja tetap saja sneakers yang setia menemaniku. Rambutpun mulai aku perhatikan agar tetap lurus dan hitam mengkilat, namun tetap tidak melebihi bahu. Itulah tuntutan profesiku setelah memasuki dunia pekerjaan.

Disela-sela kesibukanku yang saat itu bertugas di bagian customer service, setelah melayani seorang pelanggan tiba-tiba mataku tertuju pada sosok yang sangat aku kenal. Ya! Aku kenal sekali!
'Astaga! Gilang?' Pekikku dalam hati. Tapi matanya melihat ke arah lain, dia tidak melihatku. Mendadak jantungku berdegup kencang.. *seperti genderang mau perang*
Sambil berusaha menenangkan diri agar aku tetap stabil tidak cemas dan tidak gugup, aku mencoba tarik nafas dalam-dalam dari hidung, buang nafas dari mulut.. Tarik nafas panjang sekali lagi, buang... 'That's enough, Rana!' Antara pengen banget dia melihatku, tapi bingung juga apa yang akan kulakukan jika kami benar-benar bertatap muka?? Oooohh tidaaakk!! Pasti mukaku jelek sekali waktu itu.. *tepok jidat*
'Ok. Sudah. Tenanglah, Rana! Kembali bekerja!' Aku sibuk menenangkan diriku sendiri.

Kemudian kutekan tombol untuk memanggil pelanggan selanjutnya.
Ya Tuhan! Aku nampak Gilang beranjak dari kursinya berjalan menuju ke arahku. Aku mulai berdiri untuk menyambutnya, menjabat tangannya dan mempersilahkannya duduk. Begitu cara kami untuk melayani pelanggan. 

Dua langkah sebelum sampai di kursi yg berada didepan mejaku, Gilang baru menyadari kalo ini aku. Dan setelah dia melirik ke name tag yang kupasang di kerah blazerku, tertulis Rianti Amaranggana, baru dia tersenyum lebar. Dia tampak heran dan sedikit terkejut melihatku berpenampilan seperti ini. 
"Gilang.. Apa kabar sekarang?" Tanyaku sambil menjabat tangannya. Dia meraih tanganku. Kami berjabat tangan begitu erat, seperti mengalir kembali butiran-butiran asmara dalam darah kami yang dulu sempat mengendap. 
"Baik, baik. Kamu pakabar Rana?" Jawab Gilang dengan senyum manisnya yang sudah lama aku tak melihatnya. 
"Silahkan duduk.."
"Oya. Makasih..."

Gilang datang untuk mengurus kartu ATM nya yang hilang tadi pagi. Dompetnya jatuh entah dimana, semua kartu-kartu hilang. 
Aku sempat meminta nomor HP Gilang untuk keperluan informasi database. 

"Ok, Gilang.. Nanti aku telfon kalo ATM nya udah jadi ya." 
"Ok.. Sms juga boleh. Kalo gitu aku pamit ya? Nanti kabarin aja, Rana. Makasih ya.."
Kemudian kami sama-sama berdiri, salaman lagi, dia membalikkan badan berjalan menuju pintu keluar. Dan aku... Kembali duduk sejenak, menghela nafas panjang lagi, kemudian minta ijin mbak Retno, senior aku, untuk ke toilet sebentar. 

***

Aku memakudiri didepan kaca toilet perempuan di kantor, untung sepi. Aku memandangi wajahku sendiri sambil senyum-senyum. Pipiku merona, tapi aku yakin ini bukan karena blush-on yang ketebelan, bukan.. Aku pegang-pegang tangan kananku bekas salaman sama Gilang tadi. Yaa ampuuuun Rana...
Woiy sadar wooy!!
Aku coba menampar pipiku sendiri dan "Aaww! Sakit.." Ternyata ini bukan mimpi. 'Ini kenyataan! Kenyataannya aku bertemu Gilang... Setelah sekian lama. Ya Tuhanku...' Teriakku dalam hati sambil sedikit melompat-lompat kegirangan, sesekali mataku melirik kearah pintu siapa tau tiba-tiba ada orang masuk, malu lah aku.. 

Aku bener-bener gak nyangka, Gilang masih ada di Jogja. Hari itu aku bener-bener seperti habis dapet undian berhadiah mobil, bahagia sekali, sebahagia 4 tahun yang lalu ketika dia menyatakan cintanya padaku. Sumpah, jadi pengen ketawa terus aku saat itu. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur dalam hati bahwa Tuhan telah mempertemukan aku kembali dengan cinta pertamaku. 

Ya, dia cinta pertamaku... Kata orang, cinta pertama itu kenangannya begitu melekat didada, tak terlupakan. Dia memang bukan yang pertama tapi dialah orang yang berhasil mencuri hatiku lebih daripada yang lain. Gilang adalah cowok ketiga yang pernah menjadi kekasihku. Dan dialah satu-satunya kekasih diantara yang sebelum-sebelumnya yang sangat sopan dan bertanggung jawab, satu-satunya kekasih yang menjaga sekali perasaanku. Lelaki yang tau benar bagaimana memperlakukan wanita seperti layaknya seorang Putri. Mataku pun mulai berkaca-kaca, lalu kucabut tissue dari kotaknya disebelah vas bunga depan kaca. Kutahan air mata ini agar jangan sampai menetes mengingat wajahku yang masih penuh dengan make-up.

Kulihat Gilang yang sekarang lebih dewasa dari Gilang yang dulu kukenal. Dengan kemeja kotak-kotak kombinasi warna coklat dan krem nya tadi membuat dia kelihatan lebih keren, ditambah rambut potongan cepak ala Keanu Reeves juga kacamatanya yang masih awet dan badan yang sedikit berisi dibanding jaman kuliah dulu. Ternyata setelah lulus S1 nya yang hanya selang satu periode setelah aku lulus, Gilang melanjutkan kuliah S2 nya di kampus yang berbeda dengan kampus kami dulu. 

***

10 menit sudah aku didalam toilet hanya untuk melamun dan membiarkan anganku membawaku ke masa silam... 'Waduh, aku harus segera kembali ke mejaku, kalo tidak nanti mbak Retno bisa 'nyanyi' tanpa mic nih, hihihi...' 

*** 

Jam di kantor menunjukkan pukul 4.45 tandanya 15 menit lagi karyawan boleh pulang. Tak lama HP ku berbunyi. Aku ambil dari dalam tasku dan kulihat nama Adi tertera dalam layar HP ku. 
"Yaa.." Kutekan tombol hijau di keypad telpon genggam ku sambil merapikan meja kerjaku. 
"Yang, aku udah dibawah ya.."
"Iya Di, tunggu bentar yaa..!"
"Ok, daaah!" 

Ya. Dialah Adi, cowokku saat itu. Kami baru 6 bulan pacaran. Cowok keturunan Cina-Banjar-Bugis tapi sudah menetap di Jogja bersama orangtuanya sejak tahun 1997. Adi adalah calon dokter gigi yang sedang menyelesaikan profesinya di salah satu universitas negri di Jogja.

Kebetulan waktu itu Adi lagi free jadi dia menjemputku di kantor kemudian kami mampir ke warung makan dulu sebelum dia mengantarku pulang ke kos. Aku biasa makan malam awal, pulang kerja langsung makan karena males banget keluar lagi malamnya kadang udah capek.
Setelah keluar kantor melalui pintu karyawan di bagian belakang gedung, kulihat Adi sudah menunggu diluar gerbang dibawah pohon asem, sambil duduk diatas motor Tiger birunya.
"Eh, lama ya nunggunya? Sorry yaah.." Sapaku pada Adi sambil mengambil helm yang dia sodorkan. 
"Gak kok.. Yuk! Mau makan dimana?" Tanyanya. 
"Mana ajalah, terserah kamu.." Jawabku pasrah habis gak ada ide. Yang ada dalam otakku cuma bayangan wajah Gilang tadi. 'Ooooohh tidaaaakkk!! Ya Tuhan tolong aku supaya aku bisa bersikap biasa aja didepan Adi... Please!!' "Ya udah, tempat biasa aja yaa?"
"Boleh." 


Jogja, 14 Agustus 2004
Kamar Kos
Mumpung weekend Sabtu pagi aku bangun sengaja lebih siang. Semalam aku membongkar lagi harta karun usang yang masih aku simpan di dalam kotak kecil berbahan kertas daur ulang. Didalamnya ada sebuah buku diary berukuran kecil berwarna biru muda bergambar kupu-kupu. 

Kubuka perlahan lembar demi lembar. Sesekali kubaca ulang setiap detail tulisan, kadang aku terhanyut dalam cerita sedih yang aku tulis, kadang jadi ketawa cekikikan baca yang konyol dan lucu. Sampai-sampai malu sendiri membayangkan polah tingkahku di masa-masa jadi mahasiswa... Tapi aku menikmatinya. Serasa mesin waktu membawaku ke sebuah generasi dimana anak mudanya sangat memegang teguh prinsip "makan gak makan asal ngumpul" hmmmm... 

***

Tiba-tiba aku menemukan sebuah kertas kusut yang dilipat disela-sela halaman buku diary ku. Ya, itu surat dari Gilang yang pernah aku remas dan hampir aku sobek-sobek. Tapi aku urungkan dan kuputuskan untuk menyimpannya saja dengan baik. Ah, lagi-lagi anganku melayang menuju sebuah rumah bercat hijau muda yang cukup besar dan tingkat didalam komplek itu... 


....... Akhirnya sepulang dari kuliah jam pertama aku memberanikan diriku untuk menemui Gilang di kos nya. Tepatnya 2 hari setelah aku terima surat darinya. 
"Jujur aja ya, aku sempet mau berantem sama orang itu. Hampir aku tonjok mukanya!" Kata Gilang begitu emosi waktu itu. 
"Iya, tapi siapa orang itu? Temen kamu? Atau temen aku?" Tanyaku penuh keingintahuan. 
"Sorry.. Aku gak bisa bilang, Rana.. Ini gak ada hubungannya sama kamu. Sudahlah, kamu gak seharusnya terlibat dalam masalahku. Aku sekarang ini bener-bener minta pengertian kamu, aku mau sendiri dulu.." Tuturnya dengan pandangan kosong muka kusut menerawang entah kemana, bukan ke arahku. 
Aku mulai gak bisa menahan air mataku. 
"Aku gak ngerti apa yang ada di pikiranmu Gilang. Kamu tega!" Suaraku mulai bergetar. Lalu aku membalikkan badanku sambil mengusap setetes air mata yang terlanjur jatuh dipipiku. Kuambil tas Sophie Martin biru andalanku dari atas tempat tidur Gilang, juga 3 bundel makalah yang baru aku pinjam dari perpustakaan, dan pulang. Tanpa aku bisa berkata-kata lagi. Padahal aku berharap Gilang mengejarku dan menahanku untuk tidak pergi dari sana waktu itu. Tapi harapanku sirna...

Aku mempercepat langkahku agar segera sampai di kos. Kubuka pintu kamar lalu kututup setengah kubanting, kunyalakan radio dengan volume besar.

Saat itu di Jogja ada radio baru yang hanya memutar lagu-lagu saja. Belum ada iklan, belum ada berita, belum ada penyiar radio yang cuap-cuap. 24 jam non stop hanya memutar lagu-lagu saja. 101,7FM Jogja yang memiliki motto 'The soundtrack of your life' sedang memutar  lagu yang dibawakan Melly Goeslaw featuring Ari Lasso, Jika. Kemudian disusul oleh Katon Bagaskara yang muncul dengan tembang yang selalu berhasil membawa perasaan pendengarnya, Lara Hati, yang ia alunkan indah bersama Melly Goeslaw. 4 menit berikutnya lagu Separuh Nafas nya Dewa membuatku ikut bernyanyi, berteriak sih lebih tepatnya.. Terakhir, Dygta grup band baru yang langsung melejit dengan lagu andalannya KKSK (Karna Ku Sayang Kamu) berhasil melengkapi kesedihanku sore itu.

Whuaaaaaa... Makin jadi aja nih air mata meluap tak terbendung.
"Yes, you're rite! This is the soundtrack of my life..." *ngomong sama radio*
Tak terasa akupun tertidur lelap memeluk guling. Habis sudah rasanya stok air mataku hari itu... Hati menangis namun mata terasa kering. 

***

Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang mengalir hangat di pipiku. Tak terasa air mataku meleleh lagi. Segala andai-andai bermunculan dipikiranku, seandainya saja dulu dia terus terang padaku, seandainya aku dulu bisa lebih memahami perasaannya.. Seandainya dia tidak egois, dan aku tidak emosi waktu itu.. Aah, tapi semua ini tak ada gunanya. Terlambat sudah, nasi sudah menjadi bubur. Atau mungkin memang sudah begini jalanku? Mungkin ada hikmah dibalik semua ini?

Bertahun-tahun berlalu aku tetap tidak berhasil melupakan sosok laki-laki sesempurna Gilang, sempurna dimataku. Walaupun kini aku sedang berusaha membuka hatiku untuk menerima cinta yang lain, namun tetap tempat Gilang dihatiku tak tergantikan. 


Jogja, 18 Agustus 2004
Kamar Kos
Hari ini Adi tidak menjemputku, dia ada kuliah sampai sore. Jadi aku pulang jalan kaki, karena kos ku hanya berjarak sekitar 500 meter dari kantor. Sesampainya di kamar, aku diam sebentar sambil mikir, 'Hmmm..Siapa ya yang tadi jawab telponnya?' 
Sekitar jam 12 siang, menggunakan telpon genggamku kutekan 11 digit nomor HP yang Gilang tulis di form permintaan membuat kartu baru beberapa waktu lalu. Sengaja aku tak mau pakai telpon kantor, rada modus siih.. Qiqiqi boleh ya? Dan, seorang perempuan yang menjawab.
"Selamat siang.. Mmm, bisa bicara dengan Bapak Gilang?" Aku jadi pura-pura agak sopan setelah mendengar suara perempuan diseberang sana.
"Oooh A' Gilang nya lagi di kamar mandi. Ini dari mana ya?" Jawab perempuan berlogat Sunda itu. 
"Oh begitu, cuma mau memberi tahu kalo kartu ATM Bapak Gilang sudah bisa diambil besok pagi, Ibu." Ku atur suara yang paling manis sebagai customer service. 
"Oh iya, nanti saya sampaikan. Maaf ini dengan siapa ya?" Tanya perempuan bersuara lembut itu. 
"Dengan Rana, Ibu.. Terimakasih kalo begitu, selamat siang." 
Fiuh!! 

Kuraih remote TV kupilah-pilih channel tapi acaranya bikin males semua. Oh iya, jadi ingat kemaren dipinjemin VCD nya Kiamat Sudah Dekat sama mbak Retno belom aku tonton. Lalu kuambil remote VCD player diatas TV 14" yang kubeli dengan gaji pertamaku. VCD kumasukkan ke tempatnya lalu mulailah adegan demi adegan filem religius yang dikemas secara romantis tapi lucu itu. 1 jam pertama masih konsen sama jalan ceritanya. Selebihnya pikiranku mulai bercabang. Mulailah berkhayal dan kembali mengingat-ingat masa sedih kala itu. Lebih-lebih waktu adegan dimana Sarah mengirimkan surat untuk Fandy. Dalam suratnya Sarah memohon dengan sangat agar Fandy segera menemukan ilmu ikhlas sebagai syarat yang diberikan oleh ayah Sarah, untuk bisa menikahi gadis pujaannya itu. Aku gak bisa lagi membendung air mata ini, berkali-kali aku menyekanya dengan tissue. Entah sudah berapa lembar tissue yang memenuhi tempat sampah di kamarku. Antara terbawa suasana dalam adegan filem dan teringat masa lalu...

Yah... 'Aku mohon dengan sangat'... 
Akupun terinspirasi oleh doa dalam film itu. Hampir disetiap sujudku kupanjatkan doa untuk Gilang 'Yaa Tuhan, aku mohon dengan sangat, jika memang dia jodoh hamba, dekatkanlah kami. Tapi jika dia bukan jodoh hamba, maka jauhkanlah dan mudahkanlah hamba untuk melupakan dirinya yaa Tuhan.. Aku mohon dengan sangat."

***

Beep.. Beep.. HP ku berkedip tanda pesan masuk. Kulempar entah tissue yang keberapa kedalam tong sampah, namun meleset. Kuraih HP dari atas meja dan kubuka 1 pesan masuk tersebut. 

[Hey! Ini nmr km ya Rana? Ini aq, Gilang :) ATM udh jd ya? Bsk aq ksna ya, km ada dsn kan? Bls.]

Model nulis pesan singkat pada waktu itu memang begitu. Kode 'bls' maksudnya balas, si pengirim minta balasan dari penerimanya. Ngetiknya jg disingkat-singkat untuk menghemat pulsa. Padahal kalo dilihat dari nomornya kami menggunakan provider yang sama, biasanya satu provider kirim SMS gratis, tapi udah kebiasaan nulisnya begitu kali yaa..
Kemudian dengan semangat 45 aku membalas SMSnya. 

Aku :
[Hi, Gilang! Iy ini ak. Td ak nelp k hpmu hayo siapa yg angkat? Ce mu y? :p Bsk ada, dtg aja. Ak tggu y!]

Gilang :
[iya, ini lg ada kel dr ce aq dtg jd rame td di kontrakan. Kl gt smp bsk y rana.]

Aku :
[Oooooh... Ok smp ktm bsk.]

Gilang :
[Met mlm Rana, met bobo y!]

Astaga!! SMS nyaaaa... Dan aku hanya bilang makasih tanpa embel-embel di terakhir SMS ku pada waktu itu. Hatiku sangaaaaatt kacau.. *tepok jidat lagi*

Tapiii... Tadi dia bilang bahwa yang angkat telfon dariku itu pacarnya.. Hmmm, yah pupuslah harapanku..


Jogja, 19 Agustus 2004
Kantor
Sampai pukul 12.00 siang aku tunggu si Gilang belom juga datang untuk mengambil kartu ATM nya. Waktunya istirahat aku keluar pergi makan bersama mbak Siska salah satu senior juga di kantorku, orang-orang bilang kami anak kembar karena mirip. Kerjaan aku pasrahkan ke mbak Retno, yang saat itu masih melayani customer. Dia menyuruhku istirahat duluan, baru setelah aku kembali gantian dia yang istirahat nanti 1 jam kemudian. 

Intro soundtrack filem Eiffel I'm in Love milik Melly Goeslaw featuring Jimmo, Pujaanku, mengalun dari speaker HP ku. Dan kulihat nama Gilang Sutomo muncul di layar HP gendutku. 
"Hallo, Gilang.."
"Rana, udah aku ambil nih barusan ATM nya kata temenmu kamu lagi istirahat ya?" Tutur Gilang dari seberang sana.
"Oooh iya, gak papa Gilang. Hati-hati, jangan ilang lagi yaa.." Pesanku sok bijak. 
"Hehe iya.. Makasih ya! Udah dulu ya, kamu makan dulu biar ndut, hehe.. Aku balik dulu, nanti SMS an lagi ya.." Katanya sambil ketawa renyah. Kriukk!
"Hahaha aseeemm! Ok, hati-hati dijalan yaa.. Daaah!" Kataku setulus hatiku... 

Ternyata beberapa menit setelah kutinggal makan siang, Gilang datang. Akhirnya mbak Retno yang menguruskan ATM Gilang. 'Yah, gak ketemu deeehh..!' *nyesel*


Kamar Kos
Seperti malam-malam kemarin, sejak aku ketemu lagi dengan Gilang, selalu hanya sosoknya yang menari-nari di kepalaku. 
Nah! Tapi... Kenapa kata-katanya begitu yaaa? Gregetan iiihh rasanya.. 
'Apa sih maksudnya coba? Awas Rana, ini godaan!' Aku berkata pada diriku sendiri. 
'Kamu kan udah ada Adi, Gilang juga udah punya cewek. Apalagi? Sudah, hubungan kalian itu sudah selesai!' 
Tidak! Di lubuk hatiku yang paling dalam mengatakan sebaliknya. Bagiku hubungan kami masih menggantung tidak ada alasan yang jelas ketika itu. Aku yakin masih ada aku dihatinya. Akupun gak bisa bohong pada diriku sendiri bahwa sampai detik ini aku masih mencintainya. Dan sejujurnya, aku masih mengharapkan dia kembali.. 

***

Belakangan aku tau dari Harris, bahwa ternyata orang yang hampir ditonjok itu adalah bapaknya sendiri. Seperti yang aku tau Gilang adalah anak dari keluarga brokenhome. Dia begitu marah ketika mengetahui bahwa bapaknya memutuskan akan bercerai untuk yang kedua kalinya dan akan menikah lagi dengan perempuan lain. Gilang tidak bisa menerima keputusan bapaknya itu. Banyak alasannya. Makanya dia kacau sekali. Akupun menyesal kenapa baru sekarang mengetahui semuanya.. Seandainya saja pada waktu itu dia mengatakan yang sejujurnya, mungkin aku bisa lebih mengerti perasaannya. 

Ingin rasanya aku teriak sekencang-kencangnya, sambil berlari mencari Gilang kemudian memeluknya seeee erat-eratnya... Dan meminta maaf atas sikapku yang kekanak-kanakan saat itu, yang tidak mau mengerti betapa sulitnya ada di posisi dia dan justru malah menambah berat masalahnya.. Segala kemungkinan berkecamuk diotakku. 
Lagi-lagi air mataku pun membasahi bantal tempatku bersandar pada malam hari yang gerimis itu. 

(Bersambung ke Bagian 3)



Monday, 1 February 2016

Romantika Gilang dan Rana (Bagian 1)

Jogja, 18 Desember 1999

"Hey! Rana?"
Sesaat langkahku terhenti didepan pintu kamar Harris, temen satu kos dari Bandung tapi fasih berbahasa Jawa. Tapi kok bukan suara si empunya kamar? Kos-kosan aku memang penghuninya campur, laki-laki dan perempuan. Jadi semua tamu baik laki-laki maupun perempuan diijinkan masuk kamar oleh  ibu kos ku. Asalkan tetap tanggungjawab. 
"Iya, eh siapa ya?" Tanyaku. 
"Aku Gilang, kenalin.. Temennya Harris satu kelas. Harris nya masih di kampus." Kata Gilang sambil mengulurkan tangannya kearahku, suaranya jelas dan sedikit ngebas layaknya penyiar radio.
"Kok tau namaku?" Lalu aku bertanya. 
"Harris yang bilang." Diapun senyum simpul. 
Lalu kami berdua ngobrol singkat sambil duduk dibawah masih didepan kamar Harris. Ngobrol seputar tempat asal kami masing-masing, tukeran no telpon, waktu itu belom jaman handphone apalagi sosial media seperti sekarang.
Padahal postur tubuh si Gilang ini agak kurus, ceking, setipe gitu deh sama Duta Sheila on 7, tapi suaranya sumpah merdunya mirip penyiar radio! Qiqiqi... Jadi betah aja ngobrolnya sampai si Harris yang punya kamar datang, dan barulah aku kembali ke kamarku. 


Jogja, 19 Desember 1999

"Ranaaaaa..." Suara ibu kos memanggil, tandanya ada orang yang datang mencariku. 
Eh? Dalam hatiku agak kaget, gak salah nih? Itu yang duduk di ruang tamu kan Gilang. Kok nyari aku? Sambil penasaran aku keluar kamar jalan menuju ke arah seseorang yang baru kukenal kemarin, duduk layaknya seorang cowok dengan kedua sikunya bertumpu di kedua pahanya santai, aku bergumam dalam hati 'Ternyata kece juga ya nih cowok?' sambil melambaikan tangan kearahnya dan disambut dengan senyuman yang oh my God, makin bikin diriku jadi deg deg ser aja... 
"Hallo.." Sapa Gilang
"Hai! Nyari aku?" Tanyaku polos sambil isyarat tanganku menunjuk ke kamar Harris.
"Iya. Oh Harris kan dia pulang kampung. Eh, kamu lagi ngapain, tidur ya?" 
"Gak.. Lagi nyetem gitar."
"Oh iya, kata Harris kamu bisa main gitar ya?"
"Hehe.. Eh Harris cerita apa sih tentang aku? Parah deh tu anak.."
"Hahaha! Curiga aja, Non.." Candanya kemudian. "Ayo, ajarin aku dong? Sini ambil gitarnya" lanjutnya. 
Dan kamipun terhanyut dalam buaian gitar-gitar asmara untuk yang pertama kalinya. Uhuuy...
Lagu pertama yang aku mainkan untuknya waktu itu adalah Kiss Me by Sixpence None The Richer. Ini bukan modus yaa, catet!


Solo, 25 Desember 1999

Kriiing.. Suara telpon hitam jadul dirumah orangtuaku berdering. Saking kencengnya sampai-sampai aku yang lagi di WC ikutan terkaget-kaget hihihi.. Mungkin aku terlalu menghayati. 
"Ranaaa, telpoooon.. Dijawab gak?" Kata ibuku
"Yaaa.." Teriakku sambil buru-buru menuntaskan yang harus dituntaskan. Aku bergegas menuju ruang tengah dimana telfon kuno itu berada. 
"Hallo.." Sapaku perlahan, kurang tau juga siapa diseberang sana karena tidak menyebutkan nama. 
"Hallo, Rana ya?" 
Aaaaaah.. Suara khas itu... "Eh kamu?" Jawabku sumringah. Gak berani nyebut namanya juga takut kedengeran si Ibu hihihi... Padahal juga gak papa sih. Tapi namanya juga mahasiswi baru masih takut ketahuan kalo jatuh cinta. Apah? Jatuh cinta? Ranaaaaaaa jatuh cintaaaaaa???

Sepertinya memang benar, Rana mantan anak band eh, dia mah lebih suka disebut sebagai cewek multitalented sih daripada anak band. Iya, soalnya alat musik apa aja dia bisa.
Nah, lanjut.. Rana yang aslinya tomboy, yang temennya cowok semua, yang keseringan mainin senar gitar daripada melukis alis sendiri. Yang lebih fasih megang stik drum daripada megang lipstik. Rana yang koleksi topi, sneakers  dan jaketnya menuh-menuhin lemari. Rana yang gak punya rok, sekarang lagi jatuh cintaaaa??? Aaaiiiiiihhh... Apa kata emak gueeee???

Yang jelas malam harinya setelah siangnya ditelpon Gilang yang lagi mudik di Bandung, aku gak bisa tidur. Saat-saat perkenalan dengan Gilang, saat-saat berdua main gitar, saat-saat naik motor berdua pake motor pinjeman (siapa lagi kalo bukan motor si Harris), saat-saat minum es buah di salah satu pojok trotoar Malioboro semangkok berdua hihihi, karena harganya gila bo' Rp. 15.000 satu mangkok!! Buat mahasiswa kala itu cukup mahal. Semua itu masih sangat jelas melayang dipikiranku. Ternyata aku sangat merindukannya. Oh malam, tolong sampaikan padanya bahwa aku amat sangat merindukan Gilang nun jauh disana.Ya, kampus lagi libur Lebaran waktu itu. Semua mahasiswa pulang ke kampung halaman masing-masing. 

Aku belum pernah merasakan rindu yang sehebat ini sebelumnya. Rindu yang teramat dalam dan tak terungkapkan. Sampai-sampai aku meneteskan air mata entah karena saking rindunya atau entah karena gak tau lagi apa yang bisa aku lakukan untuk menepis rasa ini. Baru kali ini aku kangen berat dengan seseorang sampai sedih, nyesek didada. Pada siapa aku mengungkapkannya pun aku gak ngerti. Aku coba memutar sederetan nomor dengan kode kota Bandung, setelah terjawab malah aku tutup. Aish! Bener-bener yaah! Ternyata rindu itu menyakitkan. Gilaaaaaang... Kamu merasakan hal yang sama gak sih? Ingin kuteriak rasanya.. 

Dan akhirnya akupun tertidur dalam keadaan rindu melanda di sofa depan TV.


Jogja, 13 Februari 2000

Seminggu sudah kami kembali ke kampus. Sudah menjadi kebiasaan pulang dari kampus Gilang selalu mampir ke kamarku. Dan memang sudah biasa juga dia main ke kamar Harris. Kadang sambil nunggu Harris datang Gilang main gitar dulu di kamarku. Hmmm... Jadi semangat dan berbunga-bunga sambil bikin tugas denger backsound nya petikan gitar si Gilang memainkan lagunya Bunga, Kasih Jangan Kau Pergi. Ah dia mah pura-pura gak bisa main gitar, pura-pura minta ajarin ternyata ada maunya. Gombal yang membawa berkah hihihi... 

"Eh, Rana!" 
Gilang adalah satu-satunya orang yang memanggilku lengkap Rana. Gak seperti temen-temen yang lain, ada yg manggil Ran, atau Na. 
"Aku balik dulu yah?" Lanjut Gilang, "Ntar malem aku jemput kamu kita keluar yuk? Ok yaah! Daaahh.." Sambil ngeloyor dia pergi aja gitu dari kamarku tanpa memberi kesempatan aku menjawab ajakannya. 

Hadeuh! *tepok jidat.. Kan nanti malam temen-temen kos mau ngerayain valentine. Waduh gaswat! Udah terlanjur janjian, si Jenny udah mesen kue, ini coklat buat tukeran kadopun udah aku bungkus ala kadarnya pake kertas koran. Tapiiiii, aku juga pengen pergi sama Gilang. Hmmm.. Aku ke mbak Lina dulu deh...
"Mbak Liiiin..." Sambil gedorin pintu kamar mbak Lina, cewek tinggi semampai berparas cantik dua tahun lebih tua dariku, asal Tegal. Sayang, cantik cantik tapi bikin ketawa kalo denger dia ngomong. Logat Tegal nya itu lho gak tahan, hihihi. Dalam hati cekikikan sendiri didepan kamarnya sambil nunggu dibukain pintu. 

Setelah menjelaskan duduk permasalahannya, kaya yang serius amat yah? Walaupun dengan wajah merah menahan malu karena jadi ketauan deh kalo Gilang lagi ada usaha, hihihi.. Tapi akhirnya dengan bijaksana alias mau mengerti perasaan adek kelasnya ini, Mbak Lina memberikan waktu untukku jalan bersama Gilang sampai pukul 9 malam. Kalo telat dihukum! Maaaaakk... Aku bukan Siti Nurbayaaaa, eh Cinderella... Ah tapi gak papa lah! Lumayan hihihi...

Waktu telah tiba, akupun akhirnya sudah memutuskan untuk pakai jeans belel dan t-shirt putih polos berkerah lebar, bergaris-garis warna hitam di bagian lengan dan gak ketinggalan jaket jeans kebanggan. Setelah berkeliling dari kamar ke kamar minta wangsit dari temen-temen yang lebih pinter soal mix and match tapi semua pilihan mereka norak bin ajaib. Ah sudahlah, as usual Rana yang masih tomboy tetap memilih pakaian casual. Tanpa polesan make up dan rambut sebahu yang disisir seadanya. Baginya menjadi diri sendiri lebih penting daripada berusaha menyenangkan orang lain tapi diri sendiri merasa tidak nyaman. 

Tiba-tiba lamunanku buyar ketika seseorang mengetuk pintu kamarku. 
Pintu kamar kubuka lebar dan berdirilah dihadapanku, qiqiqi aku pikir Teuku Ryan, artis yang ngetop pada masa itu. Segera ku kucek-kucek mataku, ternyata sesosok makhluk yang gak kalah ganteng sama Fedi Nuril, pake jaket jeans juga, rambut disisir rapi. Dua tangannya sembunyi dibalik punggungnya. 
"Hallo... Nih, buat kamu!" Sapanya kemudian senyum dan menyusullah rangkaian bunga mawar merah, kuning dan pink berpita biru dari balik punggungnya. 
"Ya ampuuuuunn... Makasiiiiihhh" seruku yakin gak bisa menutupi rasa happy campur malu pasti pipiku merah merona.
"Sesuai kan sama warna kesukaan kamu, biru.. Pitanya doang siihh" Kata Gilang agak salah tingkah. 

Spontan bunga dari Gilang aku terima dan kucium tanda aku menyukainya. Lalu aku mencari botol kaca bekas seadanya didapur kos-kosan dan kutaruhlah bunga itu sementara didalamnya dan kuletakkan diatas meja belajarku. Kemudian aku mengunci pintu kamar dan tiba-tiba Gilang menggandeng tanganku lalu kami berjalan keluar. 
"Suit suiiiiittt...!" Asem bener suara itu mengganggu saja. Ternyata Jenny, mbak Lina, Yetty dan Dwita turut menyeponsori kejadian ini. Aku dan Gilang hanya pandang-pandangan kemudian mempercepat langkah supaya segera lepas dari gangguan mereka. 

Setelah menyalakan motornya, lalu aku duduk dibelakang Gilang. 
"Pegangan dong Rana, nanti jatuh." Kata Gilang padaku. 
"Malu ah.." Kataku 
"Ya udah pegangan jaketku aja." Pintanya kemudian. 

Padahal dibelakang dia aku tersipu-sipu malu, eits lupa ada kaca spion! Bisa ketauan nih. Oops..
Kali ini Gilang bawa motor teman kos nya. Maklumlah dia gak dikasih kendaraan sama bapaknya. Khawatir di Jogja bukannya kuliah malah jalan terus. 

Kurang lebih 30 menit dijalan sampailah kita disebuah kafe, tempat nongkrong favorit anak muda pada masa itu. Namanya Kedai Meja Tiga. Sebuah kafe dengan konsep romantik cocok untuk candle light dinner disaat malam valentine kala itu. Entah kenapa dinamakan kedai meja tiga asal usulnya kurang tau, tapi kononnya sih awal-awal kafe itu dibuka cuma ada 3 meja dan 6 kursi. Dan dikarenakan bertambahnya customer yang datang ke kafe itu sekarang tidak cuma 3 meja tapi banyak. 

Kebetulan aku sering datang ke kafe itu bareng temen-temen, jadi udah kenal dekat dengan pemilik kafe, Mbak Dewi. Baru lulus kuliah, dikasih modal oleh orangtuanya yang saat itu menjadi salah satu pejabat pemerintah kota Jogja, untuk membuka kafe. 
"Haaaiii Ranaaaa!!" Sapa mbak Dewi begitu melihatku di kejauhan. Biasa dia memang selalu heboh tiap kali ketemu aku. Aku hanya melambaikan tangan kearahnya. 
"Ranaaaaa... Kemana aja kamu? Lama gak kesini.." Sambutnya sambil kita ber cipika cipiki. 
"Ah mbak Dewi aja yang gak pernah disini kalo aku dateng. Minggu lalu aku kesini kok berdua ma Jenny, sore jam 4 an gitu."
"Oooh aku udah cabut dari jam 2 an soalnya harus nganter Mama, biasa mau shopping hehe.. Eh, siapa tuh? Pacar baru? Kenalin dong, Rana gitu deh.." Mbak Dewi emang hobi menggodaku. 
Langsung kucubit pinggang mbak Dewi, "Ssst... Bukan. Temen, mbak!" Koreksiku. Gilang sih senyam-senyum aja. Lalu mereka kenalan. Mbak Dewi mempersilakan kami untuk menikmati makanan pesanan kami. 

Singkat cerita, tidak terjadi apa-apa disana. Aku dan Gilang hanya ngobrol seputar keluarganya, keluargaku. Tentang masa SMA dulu dan semua hal yang pernah kita lakukan masing-masing dari kejadian biasa sampai kejadian konyol dan memalukan. Tapi gak ada jaim diantara kita. Jaim lagi ke laut wkwkwk.. Semuanya mengalir begitu saja seakan-akan kami udah lama saling kenal. 

Aku melirik jam ditanganku. Aduh! Jam 9 lebih 10 menit! Gak terasa 2 jam berlalu secepat itu. 
"Gilang, pulang yuk? Ditunggu temen-temen ntar aku gak dibukain pintu pula klo telat.." Pintaku sedikit panik. 
"Bener? Jadi pulang sekarang nih?" Tanyanya setengah menggoda. 
"Yuk ah cepetan!" Sambil kucubit lengannya. Dia nyengir aja sambil merogoh kunci motor GL-Pro disaku celananya. 

Tepat jam 10 malam, aku sampai dikos dan teman-temanku masih setia menunggu. Biasalah, langsung disuruh konferensi pers. Kemudian kenorakan dimulai. Dan berakhir jam 12 malam, masing-masing masuk ke kamarnya. Dan aku, masih membayangkan wajah Gilang dan segala sikapnya yang misterius. 'Dia suka gak sih sama aku?' Batinku. Kalo suka kok gak nembak? Kalo gak suka kenapa perhatian? Ah Rana, please be calm!


Jogja, 17 Februari 2000

Siang itu agak mendung, Gilang datang seperti biasa dia masuk kamar langsung ambil gitar dan memainkannya. Aku masih sibuk dengan tugas-tugas mata kuliah Bisnis Plan yang membuatku harus menghayal. Namun lagu Pelangi Di Matamu punya Jamrud yang Gilang nyanyikan membuatku menghayal jauh ke tempat lain. Hihihi! 
"Kok berenti?" Tanyaku kemudian memecah kesunyian karena petikan gitarnya tak terdengar kira-kira 30 detik. Aku menoleh ke arahnya 1 detik kemudian kulanjutkan menulis lagi. Tapi pertanyaanku tak dijawab. 
"Rana, sini dong?" Katanya pelan.
Mendadak aku jadi salah tingkah, dan mencoba keep calm pindah dari kursi belajar ke karpet dan duduk di sebelah Gilang. 
"Ada apa?" Tanyaku sedikit curiga
"Rana, kamu itu lucu yaah.." 
"Laaaah kok lucu emang badut?" Kupukul lengan Gilang ala-ala petinju, dia hampir ambruk dan mencoba bertahan lalu kembali ke posisi semula. Kami ketawa berbarengan melepas sejenak kegugupan yang ada. 
"Abdi.. Hoyong.. Ka anjeun.." Katanya lembut dan pelan. 
"Ngomong apa sih? Gak ngerti.." Aku bingung dia ngomong bahasa Sunda yang aku gak ngerti babar blas artinya. 
Lagi-lagi dia cuma mesam-mesem penuh arti. Sesekali mengusap-usap hidungnya, membetulkan rambutnya yang agak gondrong. Yang jelas dia grogi. 
"Gak.. Gini lho, kamu... Mau gak.. Jadi pacar aku?" 
Sontak aku kaget sekaligus gak percaya. 
Akhirnya Gilang nembak jugaaaaa! Rasanya gak karuan di dadaku campur-campur semua deh ada disini. Antara seneng, deg-degan tapi juga gengsi dan malu. Aku belom bisa berkata-kata hanya melipat kedua kaki dan kudekap di dada erat-erat, menunduk malu-malu tapi sebenernya mau juga siiihh. Hahahah!! Dia menyandarkan gitarnya di dinding lalu meraih tanganku dan menggenggamnya. Jantungku makin berdegup kencang saja. 
"Rana? Kamu sayang gak sama aku?" Tanyanya menanti jawaban sambil terus menatapku.
Aku hanya bisa membalas tatapannya dengan senyum dan mengangguk. Diapun menerima isyaratku. Lalu kamipun tersenyum, dia peluk aku dan akupun jatuh dalam pelukannya. 
"Makasih ya Rana.. I love you since we met at the first time." Katanya
"What?? Sama dong." Akhirnya akupun mengakuinya. 
"Oh ya? Ini gak mimpi kan?" Diapun seakan-akan gak percaya sambil mencubit-cubit tanganku.
"Aaaww! Sakit tau.."
Lalu diciumnya tanganku dengan lembut. 


Aku ambil gitar dan kumainkan instrumen lagu favorit kami dari Bunga, Kasih Jangan Pergi. Kemudian Gilang pun bernyanyi untukku. Suaranya lumayan. Kolaborasi yang pas, menurut yang lagi terpanah asmara. Pokoknya dunia milik berdua deh. Ah betapa bahagianya kami saat itu. 


Jogja, 19 Februari 2000

Malam minggu pertama kami setelah jadian pun tiba. Pagi sampai siang kami sama-sama ada kuliah dan hanya sempat ketemu sebentar di kampus. Aku dan Gilang beda jurusan jadi jadwal kuliah pun kadang tidak sama. Hari itu aku kuliah hanya sampai jam 12.30 siang. Tapi Gilang ada kuliah lagi jam 3.30 sore. Jadi kami hanya bertemu dari jam 1 siang sampai jam 3.30 sore. Kampus kami cukup dekat hanya perlu jalan kaki 2 menit dari kos. Dan kos aku dengan kos Gilang hanya berjarak sekitar 200 meter. 

Akhir pekan kali ini aku tetap di kos dan tidak pulang ke Solo seperti minggu-minggu sebelumnya. Kan ada pacar baru... Hihihi. 

Jam 7 lewat 15 menit Gilang menjemputku kemudian kami berjalan kaki ke warung mahasiswa dekat kampus untuk makan malam. Tidak seperti mahasiswa jaman sekarang, mahasiswa angkatan tahun 90 an makan di angkringan pun asal berdua sama pacar, serasa candle light dinner di kafe mahal hihihi... Bedanya di kafe pake lilin beraroma kalo di angkringan pake petromak, hahaha!!


Ternyata orang tua Gilang sudah berpisah sejak dia SMP. Dia punya adik laki-laki satu, tinggal bersama ibunya. Sementara Gilang tinggal bersama bapaknya yang sudah menikah lagi dan mempunyai seorang anak perempuan. Namanya Rury. Dia sangat sayang dengan adik perempuannya yang waktu itu masih berumur sekitar 5 tahun.
Aku jadi terharu mendengar cerita tentang kehidupan Gilang. Dia bilang, kalo dia menikah nanti gak mau seperti orangtuanya, sebisa mungkin akan dia jaga agar keluarga tetap utuh kasihan anak-anak yang jadi korbannya. 

Gilang, walaupun dia satu tahun lebih muda dariku dia sangat dewasa. Mungkin pengalaman hidupnya yang membuat dia cepat dewasa. Terlihat dari cara ngomongnya, caranya dia berfikir dan melihat sesuatu. Cara dia memperlakukan aku. He is so sweet, dia selalu berjalan disebelah kananku dan memegang tanganku ketika menyeberang bersama. Dia sangat memperhatikan aku, itulah sebabnya aku begitu jatuh hati padanya. Hingga suatu hari...


Jogja, 22 Februari 2000

Tiga hari sudah Gilang tak kunjung datang ke kos seperti biasa. Hari-hari berlalu tanpa aku mendengar kabar tentang Gilang lagi. Diapun gak kelihatan menemui Harris sobat kentalnya itu. Padahal sehari bisa 3 kali dia bolak-balik datang. Lah ini enggak, membuatku cemas sekaligus galau. 

Kebetulan tadi pagi kami berpapasan di kampus, aku dan teman-temanku sedang duduk sambil membahas materi kuliah yang baru saja disampaikan dosen, di kursi panjang depan kelas Manajemen. Aku lihat Gilang berjalan bersebelahan dengan Harris menuju ke kelas Akuntansi. Gilang melihatku kemudian senyum sambil gerak bibirnya mengisyaratkan 'aku masuk kelas dulu yaa' Akupun membalas senyumnya dan mengangguk tanda okay. 


Jogja, 23 Februari 2000

Kutunggu dan kutunggu, gak pernah datang jawaban yang pasti. Ini gak biasa, ada yang gak beres kayanya. Tapi apa? Kenapa Gilang gak memberitahuku? Aku ini pacarnya kan? Aku mulai gelisah, kuliah gak konsen, tidur gak nyenyak, makan pun gak selera. Setiap bangun tidur selalu yang terbayang pertama kali hanyalah wajah Gilang. Aku bisa gila kalo lama-lama dibiarkan seperti ini. Akupun berinisiatif menulis surat untuk Gilang. Bodohnya aku, aku gak punya keberanian untuk datang ke kos Gilang menanyakan sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Lalu kuambil bolpen bertinta biru warna kesukaanku, dan kutulislah surat untuk Gilang...

Rabu, 23.02.00, 05.00 am.

Dear, Gilang...
Apakabar sayang? Semoga kamu baik-baik aja. Kamu kemana aja selama ini? Kenapa kamu gak ngasih kabar, gak datang lagi ke kosan aku? Aku kan jadi bingung, paling gak kamu cerita dong ke aku. Siapa tau aku bisa bantu. Tapi gak begini caranya. Kamu gak mikirin perasaanku. Aku kangen kamu, Gilang...

Atau aku udah buat kamu marah ya? Aku minta maaf kalo udah buat kamu kecewa dan gak mau nemuin aku lagi. Tapi please Gilang kasih tau aku.. Dimana kesalahanku?

Sayang, asal kamu tau ya aku tuh sayang banget sama kamu. Aku harap kamu juga bener-bener sayang ma aku. Tolong balas suratku ini... Aku pengen kita sama-sama lagi seperti kemaren-kemaren. Sampai kapanpun aku akan tetap nunggu kamu Gilang. Kamu lihat kertas yang masih basah dan tulisan yang luntur itu kan? Itu tetesan air mataku... Supaya kamu tau kalo aku bener-bener sayang kamu...

With love,
Rana, yang lagi sedih..

Setelah kubaca ulang lalu kertas kulipat, kemudian naik ke lantai atas ke kamar Harris untuk menitipkan surat itu. 
Kupanggil Harris sambil kuketuk pintu kamarnya yang masih tertutup. Ternyata dia baru bangun. 
"Ya!" Jawab Harris dengan suara masih parau dan sambil mengusap matanya yang belom sepenuhnya terbuka, membuka pintu kamarnya. 
"Titip ini ya tolong kasih ke Gilang." Kataku datar.
"Ini aja ya?" Tanya Harris sambil membolak-balikkan surat itu
"Iya, udah itu aja. Makasih ya, Ris. Eh, salam buat Gilang.." Kataku sambil mencoba untuk senyum. Kemudian aku balik ke kamarku lagi. 

***

Hari-hariku mulai hampa tanpa hadirnya Gilang disisiku lagi, seperti baru kemaren aku merasakan kebahagiaan, ada kekasih yang mengisi hari-hariku, namun belum puas aku merasakan kedekatan bersama orang yang aku sayang, tiba-tiba dia menghilang entah apa sebabnya.

Kuminta mbak Lina menemaniku pergi ke Kedai Meja Tiga sekedar melepas beban rindu dan rasa penasaranku atas sikap Gilang akhir-akhir ini. Disana kucurahkan semua air mata dan isi hatiku, ditemani mbak Lina juga mbak Dewi si pemilik kafe. Mereka menyarankan agar aku tetap sabar, tunggu penjelasan dari Gilang. Jangan gegabah karena hanya akan memperburuk keadaan. 
"Kalo perlu kamu dong yang ke kos nya, siapa tau dia sakit, hayo?" Tutur mbak Dewi. 
"Gitu ya mbak? Tapi aku malu.." Kataku belom-belom udah nervous. 
"Yah elaaahhh..."


Jogja, 24 Februari 2000

"Ran..." Kudengar suara Harris dibalik pintu kamarku. Segera kuhapus sisa-sisa air mataku. Hampir setiap hari, bangun tidur, sepulang dari kampus, mau tidur, aku hanya bisa nangis dan nangis. 
Pintu kamar kubuka dan aku gak peduli lagi entah seperti apa wajahku saat itu. 
"Ini ada surat dari Gilang.." Kata Harris singkat kemudian dia pamit. Mungkin dia tau aku lagi suntuk. 
"Oh iya makasih." Jawabku pendek. 

Kututup pintu kamar dan cepat-cepat kubuka surat mungil tanpa amplop itu. 

23 Februari 2000, 11.00 pm

Malam Rana...
Aku sudah membaca isi suratmu. Dan aku sangat mengerti perasaan kamu. Please jangan sedih ya? Aku benar-benar minta maaf sama kamu Rana, sepertinya aku gak bisa ngelanjutin hubungan kita. Aku lagi ada masalah keluarga dan aku gak mau kamu kena dampaknya. Tolong kamu ngertiin aku ya... Kamu terlalu baik buat aku Rana. Aku gak mau kamu jadi ikut kepikiran karena masalahku. Aku mau sendiri dulu. Maafkan aku gak bisa cerita semuanya. Semoga kamu dapet pengganti yang lebih baik dari aku. Makasih udah perhatian ma aku. 

From :
Gilang...


Kemudian pecahlah tangisku sore itu bagaikan disambar petir ditengah-tengah hujan yang deras di siang bolong.

Yes.. Confirmed! He broke my heart... 


(Bersambung ke Bagian 2)





Saturday, 30 January 2016

Cream Cheese Dessert

Sebelumnya kalo beli cream cheese hanya untuk olesan cake. Kali ini pengen mencoba dibuat makanan penutup alias dessert. Yuk kita simak cara bikinnya!

Bahan-bahan cream :
250 gr cream cheese
100 gr icing sugar
2 tsp condensed milk

Bahan pelengkap :
Digestive biscuits (roti mari)
Fresh milk
Whipped cream
Strawberry/cherry/messes/milo bubuk (untuk topping)

Caranya :
1. Mixer semua bahan cream sampai lembut sisihkan. 
2. Siapkan gelas kecil atau container kecil. 
3. Celupkan roti mari kedalam susu cair sebentar saja sebelum disusun di dalam container. 
4. Oleskan cream cheese diatas roti tebal tipisnya sesuai selera. Kemudian ulangi lagi sampai 3 layer atau sesuai tinggi gelas/container. 
5. Kemudian di lapisan terakhir roti semprotkan whipped cream dan topping sesuai selera. 
6. Masukkan ke dalam kulkas kurang lebih 1 jam, dan sajikan. 

Gampang kan? Anak-anak suka lho... 😆👌🏼

Monday, 3 August 2015

Sahabat Atau Teman?

Part 1

Sejak 15 tahunan yang lalu dalam hidup saya sudah tidak lagi mengenal kata 'sahabat'. Maaf aja ya, bagi saya sahabat itu memiliki arti lebih daripada teman. Menjadi lebih dekat, menjadi lebih cinta karena kita cenderung lebih menyukai teman yang satu ini daripada yang lain, menjadi lebih banyak peraturan/kesepakatan atau menjadi lebih posesif sampai kemanapun harus bersama. Nah, akhirnya justru malah bikin kita repot sendiri kan?

Kejadiannya berawal ketika saya masuk kuliah tahun pertama. Yang namanya anak muda yang beranjak dewasa, pertama kalinya 'keluar' rumah dalam arti bebas tanpa pengawasan orang tua. Hidup senang hanya dengan teman-teman kampus dan teman-teman kos. Bukan dengan segala peraturan ketat orang tua dan kekhawatiran mereka yang menurut saya waktu itu berlebihan... Hehehe!! Saya ketemu teman perempuan yang kebetulan satu kosan, dan dia asik banget deh kalo diajak ngobrol, diajak jalan, diajak begadangan sampai malem dikamar... Pokoknya kemana-mana kita selalu bersama dimana ada dia disitu pasti ada saya, tah elaaaaah suit suiitt!! Intinya saya menemukan seorang sahabat yang cocok, sehati, seiya dan sekata. Lebay memang, gapapa biasanya anak muda memang suka lebay kok....

Jadilah mulai posesif2 an, cemburu2 an.. Kalo dia mulai ada yang ditaksir (cowoklah biasaa..) atau sayanya yg diajak jalan sama cowok, dia agak sedih gimana gitu. Diihh ada yaaa, tapi emang kalo perempuan temenan itu begituu tauu.. 🙈🙈😂😂 
Sampai akhirnya, temen saya itu yang mulai menjauh dariku. Mulai jarang curhat2 lagi, mulai jarang main ke kamar. Dan dia sering pergi sama teman barunya. Ternyata selidik punya selidik (eh beneran deh waktu itu saya jadi sok-sokan kaya detektif, nanya2 sana sini hahahah..) dia udah punya pacar boooo'... Tapi dia merahasiakannya gak mau cerita sama saya. Pas tau ya, sakitnya tuh disiniiihhh 👉💖😭 eeeaaaaaa...
Karena alhamdulillah yaa, kita berteman waktu itu memang saya lebih ke sifat yang positif dan dia negatif nya. Dia lebih gampang terbawa ke hal2 baru dan gak mikir panjang kadang gak tau juga klo ternyata itu menjerumuskan dia. Sementara aku alirannya lempeng ajaaa... Lebih introvert dan mikirnya kepanjangan jadi selalu ketinggalan jaman deh kayanya wkwkwkwk.. 😂😂😂 jadi dia gak mau cerita ke saya karna sudah tau saya pasti gak bakal setuju kalo dia pacaran dengan cowok itu. 

Dan benar, beberapa lama setelah hubungan persahabatan kami renggang saya dapet kabar bahwa sahabat saya itu hamil diluar nikah. Naudzubillah...

Part 2

Memasuki tahun kedua kuliah, saya punya pacar (uhuk uhuk.. Citcuiitt!!). Gak perlu diceritain lah yaaa, terlalu indah untuk dilupakan namun terlalu sedih untuk dikenang.. Seeeeetttt?!?! 
Dari situ saya punya sahabat dekat lagi, sebagai teman curhat, teman belajar, teman jalan, teman ke mesjid (alhamdulillah masih inget sholat dan ngaji 🙈🙈), teman makan, teman masak2an bahkan teman tidur bareng jugak... (Eeeeehhh ini tidur bareng sama sahabat cewek saya yaaa bukan sama pacar saya catet!!) 😂😝 Kadang saya nginep dikos nya kadang dia nginep dikos saya, padahal deket. Jadi cuman numpang tidur aja semalem paginya habis subuh balik dikosnya lagi mandi ketemu lagi dikampus. Kadang juga gak tidur malah ngopi bareng jadilah begadang ngerumpiin cowok gak bisa tidur hahahaaaa!! Masuk kelas milih bangku deretan cowok di belakang kalo sempet tidur deeehh... Wkwkwkwk untung gak pernah ketauan dosen 🙈🙈 

Nah! Persahabatan kami boleh dibilang agak lamaan lah umurnya dibanding dengan yang di part 1. Sampai akhirnya kepentok masalah lagi. Intinya saya dibohongi, kata-kata saya tidak dipercaya, dikecewakan dan terkunci dibikin bingung gak bisa ngapa2 in. Dan saya capek! Lama-lama dia itu menganggap saya seperti malaikat apa ya?! Ketika dia perlu saya harus selalu ada disamping dia. Kalo lagi ada masalah sama pacarnya dia lari ke saya, gak mau tau kalo saya juga lagi pacaran (fiuh@&?!#%*€$) 😜 qiqiqiqi... Kalo dia minta tolong saya, saya harus bisa, gak bisa gak, kalo gak bisa dipaksa sampai saya bilang iya. Tapi kalo dinasehati, masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Didepan bilang iya tapi dibelakang dia bohong. Sampai ke masalah yang sangat sensitif ya, uang. Wah udah deh kalo begini caranya saya gak bisa lagi, saya nyerah. Saya gak mau lagi kejadian begini.

Seperti sahabat yg di part 1 tadi juga pada intinya sebenernya sama. Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Jadi semenjak saat itu, saya mulai merubah mindset saya. Saya tidak lagi menganggap seorang atau beberapa orang teman yang dekat sebagai seorang sahabat. Terlalu berlebihan buat saya. Dan ketika kita berharap terlalu banyak pada seseorang, yang ada kita malah akan banyak mendapat kekecewaan. Kalo ada yang menganggap saya sebagai sahabat monggo saja saya tidak apa-apa. Tapi maaf saja jangan bersedih kalo saya tidak bisa menganggap kalian sebagai sahabat 😊 

Part 3 (habis)

Saya berteman dengan siapa saja. Dengan si A, si B, si C, dan si D. Saya menganggap kalian semua adalah teman-teman yang saya sayangi. (Yang insyaallah saya menyebutkan nama-nama kalian yang saya sayangi dalam doa-doa saya). Dengan begitu, tidak ada rasa gimana-gimana lagi ketika si A jalan bareng dengan si B dan si C saja tanpa saya diajak. Begitupula ketika saya hanya mengajak makan bareng dengan si B dan si D saja, yang lain juga tidak akan merasa iri kalau seandainya si A dan si C mempunyai anggapan yang sama dengan saya tentang arti teman ini. Pada dasarnya, kita berteman kita saling sayang saling peduli. Akan tetapi kita tetap memberikan hak dan kebebasan pada masing-masing untuk juga berteman dengan siapa saja, karena kita berhak memilih siapa yang akan kita jadikan teman. 

Seperti saya, saya tetap memilih-milih mana teman saja mana teman dekat. Seperti di hadits kan ada, 
"Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu diantara kalian hendaknya memperhatikan siapa yg dia jadikan teman" (HR. Abu Dawud no. 4833 dan At Tirmidzi no. 2378. Ash-Shahihah no. 927)

Semua yang berteman dengan saya insyaallah saya menganggap kalian adalah teman-teman saya. Dan teman-teman dekat saya adalah mereka yang bersedia membantu disaat saya memerlukan, yang bersedia direpotin ketika saya kesusahan, bahkan mau menjadi tempat berbagi ketika datang sedihku atau gembiraku. Mereka yang saya merasa cocok dan nyaman ketika mencurahkan isi hati, begitupula sebaliknya. Mereka yang sepemikiran, sejalan, selaju seirama seiya sekata 😊😊. Pilihlah teman-teman yang shalih. Minimal diri kita akan tercegah dari perbuatan-perbuatn buruk dan maksiat. Teman yang shalih akan senantiasa menjaga dari maksiat, dan mengajak berlomba-lomba dalam kebaikan, serta meninggalkan kejelekan. Dia juga akan senantiasa menjagamu baik ketika bersamamu maupun tidak, dia juga akan memberimu manfaat dengan kecintaannya dan doanya kepadamu, baik ketika engkau masih hidup maupun setelah engkau tiada. Dia juga akan membantu menghilangkan kesulitanmu karena persahabatannya denganmu dan kecintaanya kepadamu. 

Semoga Allah Ta'ala senantiasa menjaga kita dan keluaraga kita dari pengaruh teman-teman yang buruk dan mengumpulkan kita bersama teman-teman yang baik. Allahumma Aamiin 💖💖

Tuesday, 6 January 2015

Itulah Indonesia!

Liburan akhir tahun kemaren kami lagi-lagi memilih balik kampung saja ke Indonesia. Gak tau kenapa ya, mungkin keluarga lain lebih memilih mengisi liburan mereka dengan jalan-jalan ke luar negri (eh kita ke luar negri juga sih ya? 😆😆😆).. Maksudnya ya ada yang ke hongkong, ke eropa, amerika, jepang, korea, bla bla bla... Tapi udah kurang lebih sepuluh tahun mas juragan kerja jadi TKI di Malaysia ini, paling jauh kami pergi ya ke... Hmm *mikir.. Surabaya! Ya Surabaya, itupun transit aja dari Jogja mau ke Bandung, tapi karena ada kesalahan tiket pesawat jadinya lewat Surabaya dulu 🙈🙈 hihihi... 

Tapi aku bukan mau membahas masalah travelling sih.. Cuma sedikit sharing tentang perkembangan perilaku masyarakat Indonesia saat ini. Karena aku lama tidak tinggal di Indonesia, jadi perubahan itu sangat 'nyolok moto' dan agak sedikit merasa jengkel karena sudah gak terbiasa, walopun sebenernya prihatin. 

1. Antri
Kemana perginya bebek-bebek model iklan 'Budayakan Antri' dulu? *sigh Selalu nervous setiap kali mau bayar di kasir. 

2. Kejujuran
Waktu habis parking di pinggir jalan kan biasa tuh disana suka ada tukang parkirnya. Paling 2000 kan ya untuk mobil? Mas juragan gak ada uang pas adanya lembaran 5000 rupiah. Dan udah bilang ke tukang parkirnya, 'Pak disusuki nggih, mboten enten duik pas' Diterimalah uang kertas 5000 an dan mulai semangat 'ngabani'. Eh, 'nglali' to kita disuruh terus jalan!! Lha susuke pundi pak? Trus baru deh dikasih kembaliannya. 

3. Etika jual beli
Bukannya mau membeda-bedakan di Indonesia atau dimanapun ya. Tapi ini lebih ke moral. Coba diperhatikan, kembalian dalam bentuk permen itu cuma ada di Indonesia. Jaman dulu seringkali kita ngalamin kan? Gak tau ya sekarang masih dilakukan atau tidak. Padahal itu jelas-jelas gak boleh dan ada aturannya di undang-undang. 
Yang masih inget kemaren waktu beli kaos kaki anak-anak. Si mbak kasir gak punya uang recehan, dia bilang gini 'Tapi kembaliannya kurang 200 rupiah gapapa ya bu?' *tepokjidatjenongsaya 🙈🙈 

4. Artis
Orang yang paling aku benci adalah artis! Ayo yang merasa artis silakan kalo mau protes hahaha 😆😆😆
Kenapa? Kalo udah merasa artis teope begete terkenal dimana-mana semua orang tau, pasti sifatnya mentang-mentang. Maaf ya kalo nulisnya sambil emosi 👊😡
Dan masyarakat awam bodoh, mau-maunya 'nyembah-nyembah' sama artis. Ya biarkan saja, memangnya kalo sudah jadi artis boleh nyerobot antrian? Dapet tempat duduk empuk, diruangan yang sejuk? Memangnya kalo orang udah tau dia artis langsung disapa manis dilempr senyuman dikasih welcome drink, yang orang biasa bodo amat. Padahal, emang kamu dikasih duit sama tu artis? Emang yang ngasih kamu makan tu artis? Yang ada kamu yang diinjek-injek sama artis! Berapa kali ya aku nulis artis disini? Hahaha 😆😆😆 
Mau protes? Ya dia artis mana pernah ngerasain apa yang dirasain orang biasa? 😝😝

5. Asap Rokok
Fiuhhh!!! Masyarakat itu sebenernya bodoh apa gak mikir sih ya? Tampang nya sih mentereng, kaya banyak duit gitu. Pakaiannya necis, rambutnya klimis, pake cincin yang batu akiknya segede pete 😂😂 tapi... Kok ngerokok didalem mall? Kok ngerokok didalam food court? Gak pernah keluar negri ya pak? Dirumah nya gak punya AC ya mas? Gak bisa baca tulisan atau rambu2 no smoking? Dulu SIM nya nembak sih... Lah loh kok jadi gak nyambung? 😝😝

6. Belom ada ide. Hehehe, tunggu aku balik kampung lagi ya. Insyaallah akan ada cerita-cerita menarik lainnya 😉 sampai jumpa!